Category Archives: Asuhan Keperawatan Komunitas

ASUHAN KEPERAWATAN KOMUNITAS DAN KELUARGA

ASUHAN KEPERAWATAN KOMUNITAS DAN KELUARGA: “ASUHAN KEPERAWATANKOMUNITAS DAN KELUARGA


  1. Leaflet Hipertensi
  2. Leaflet Maag
  3. Leaflet Pertumbuhan Remaja
  4. Manajemen puskesmas
  5. Format Pengkajian data komunitas
  6. Format Pengkajian Keluarga
  7. Hipertensi dengan konsep keluarga
  8. Konsep askep komunitas lingkungan kerja
  9. Konsep Keluarga dengan stroke
  10. Pedoman Wonshield survey
  11. Format Pengkajian 0-1 tahun
  12. Cara memberi penyuluhan
  13. DM Lansia
  14. Leaflet DM
  15. askep keluarga
  16. konsep keluarga dengan TB Paru
  17. Konsep Keluarga
  18. Leaflet pertumbuhan remaja
  19. Statistik Analisa
  20. Tumbuh Kembang Remaja

  1. Diagnosa keperawatan keluarga dengan hipertensi
  2. Alat Kontrasepsi
  3. Format Pengkajian balita
  4. Format Pengkajian ibu hamil
  5. Format Pengkajian KB
  6. Format Pengkajian lansia
  7. Format Pengkajian nifas dan ibu menyusui
  8. Format Pengkajian remaja
  9. Format Pengkajian usia sekolah
  10. Pre Planning Rematik
  11. Pre Planning Keluarga ibu menyusui
  12. Pre Planning Tumbuh kembang remaja
  13. Puskesmas
  14. SAP Breastcare
  15. SAP Kesehatan Lingkungan
  16. SAP Obesitas
  17. SAP Sumur
  18. Tentang Hipertensi
  19. Konsep keperawatan keluarga
  20. Askep remaja

Click in here
# Download All #http://ktiskripsi.blogspot.com/

ASUHAN KEPERAWATAN MATERNITAS

ASUHAN KEPERAWATAN MATERNITAS: “ASUHAN KEPERAWATAN MATERNITAS


  1. Askep eklampsia post partum
  2. Askep ekstraksi vacum
  3. Askep hipertensi-gravida
  4. Askep ca vulva
  5. Askep kistoma ovarii
  6. Askep ab imminen
  7. Askep abortus
  8. Askep ante natal care
  9. Askep ca cervik
  10. Askep sc – panggul sempit
  11. Askep sc
  12. Askep serotinus
  13. Askep Post partum (masa nifas)
  14. Askep post partum fisiologis
  15. Alat kontrasepsi
  16. asi eksklusif
  17. ibu hamil
  18. hidramnion
  19. imunisasi
  20. kehamilan matur
  21. kelainan menstruasi
  22. Askep letak sungsang

  1. panggul sempit
  2. pemeriksaan fisik ibu hamil
  3. perawatan payudara
  4. plasenta previa
  5. solid ovarium tumor
  6. vulva higiene
  7. senam nifas
  8. leaflet buteki
  9. hidramnion
  10. Askep makrosomia
  11. Askep mioma uteri
  12. Askep partus macet
  13. Askep persalinan normal
  14. Askep pre eklamsia
  15. Askep primi gravida
  16. Askep ruptur uteri
  17. lekore kandidiasis
  18. mola hidatidosa
  19. non strest test

http://ktiskripsi.blogspot.com/

ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA

ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA

ASKEP KELUARGA

KELUARGA

adalah unit terkecil masyarakat, terdiri dari suami istri dan anaknya atau ayah dan anaknya atau ibu dan anaknya. (uu. No 10, 1992)

adalah kumpulan dua orang / lebih hidup bersama dg keterikatan aturan dan emosional, dan setiap individu punya peran masing-masing (friedman 1998)

adalah unit terkecil masyarakat, terdiri dari suami istri dan anaknya atau ayah dan anaknya atau ibu dan anaknya. (uu. No 10, 1992)

adalah kumpulan dua orang / lebih hidup bersama dg keterikatan aturan dan emosional, dan setiap individu punya peran masing-masing (friedman 1998)

Kesimpulan :

- unit terkecil dari masy

- dua orang / lebih

- ikatan perkawinan dan pertalian darah

- hidup dalam satu rumah tangga

- asuhan kepala rt

- berinteraksi

- punya peran masing2

- pertahankan suatu budaya

CIRI-CIRI KLG :

  1. Diikat tali perkawinan
  2. Ada hub darah
  3. Ada ikatan batin
  4. Tanggung jawab masing –masing
  5. Ada penagmbil keputusan
  6. Kerjasama
  7. Interaksi
  8. Tinggal dalam suatu rumah

STRUKTUR :

1. Struktur peran klg, formal dan informal

2. Nilai/norma klg, norma yg diyakini oleh klg. Berhub. Dg kesehatan

3. Pola komunikasi klg, bgm komunikasi ortu-anak, ayah ibu, & anggota lain

4. Struktur kek. Klg, kemamp. Mempengaruhi dan mengendalikan orlain. U/ kesehatan

CIRI –CIRI STRUKTUR KLG :

  1. Terorganisasi , bergantung satu sama lain
  2. Ada keterbatasan ,
  3. Perbedaan dan kekhususan, peran dan fungsi masing-masing

STRUKTUR KELUARGA (IKATAN DARAH) :

  1. Patrilineal, klg sedarah terdiri sanak saudara sedarah dlm beberapa generasi , dimana hub. Itu berasal dari jalur ayah
  2. Matrilineal, klg sedarah terdiri sanak saudara sedarah dlm beberapa generasi , dimana hub. Itu berasal dari jalur ibu
  3. Matrilokal, suami istri tinggal pada klg sedarah istri
  4. Patrilokal, suami istri tinggal pada klg sedarah suami
  5. Klg kawinan, hub. Suami istri sebagai dasar bagi pembinaan klg dan sanak saudara baik dari pihak suami dan istri

PEMEGANG KEKUASAAN

Patriakal, dominan dipihak ayah

Matriakal, dominan di pihak ibu

Equalitarian , ayah dan ibu

PERANAN KELUARGA :

  1. Peranan ayah, pencari nafkah, prndidik, pelindung, rasa aman, sbg kk, anggota masy
  2. Peranan ibu, mengurus rt, pengasuh/pendidik anak, pencari nafkah tambahan, anggota masy
  3. Peran anak, peran psikososial sesuai tk perkemb. Baik mental fisik sosial dan spiritual.

TYPE KELUARGA (SCR TRADISIONAL)

  1. Keluarga inti (nuclear family) terdiri: ayah , ibu dan anaknya dari keturunannya atau adopsi
  2. Keluarga besar (extended family) keluarga inti + anggota klg lain yg masih ada hub. Darah. (kakek, nenek , paman, bibi)

TYPE KELUARGA (SCR TRADISIONAL)

  1. Keluarga inti (nuclear family) terdiri: ayah , ibu dan anaknya dari keturunannya atau adopsi
  2. Keluarga besar (extended family) keluarga inti + anggota klg lain yg masih ada hub. Darah. (kakek, nenek , paman, bibi)

TUGAS PERKEMBANGAN SESUAI DENGAN TAHAP PERKEMBANGAN (DUVAL)

(SOCIOLOGICAL PERSPECTIVE)

  1. Keluarga baru menikah

- membina hub. Intim

- bina hub, dg klg lain: teman dan kelompok sosial

- mendiskusikan rencana punya anak

  1. Klg. Dg anak baru lahir

- persiapan mjd ortu

- adaptasi klg baru , interaksi klg, hub. Seksual

  1. Klg dg anak usia pra sekolah

- memenuhi kebut. Anggota klg : rumah, rasa aman

- membantu anak u/ bersosialisasi

- mempertahankan hub yg sehat klg intern dan luar

- pembag tanggung jawab

- kegiatan u/ sti,ulasi perkemb. Anak

4. Klg dg anak usia sekolah

- membantu sosialisasi anak dg lingk luar

- mempertahankan keintiman pasangan

- memenuhi kebut. Yg meningkat

5. Klg dg anak remaja

- memberikan kebebasan seimbang dan bertanggug jawab

- mempertahankan hub. Intim dg klg

- komunikasi terbuka : hindari, debat, permusuhan

- persiapan perub. Sistem peran

6. Klg mulai melepas anak sebagai dewasa

- perluas jar. Klg dari klg inti ke extended

- pertahnakan keintiman pasanagan

- mabantu anak u/ mandiri sbg klg baru

- penataan kembali peran ortu

7. Klg usia pertengahan

- pertahankan keseh. Individu dan pasangan usia pertengahan

- hub. Serasi dan memuaskan dg anak- anaknya dan sebaya

- meningkatkan keakraban pasangan

8. Keluarga usia tua

- pertahankan suasana saling menyenangkan

-adapatasi perubahan : kehil.pasangan,kek. Fisik,penghasilan

- pertahankan keakraban pasangan

- melakukan life review masa lalu

8. Keluarga usia tua

- pertahankan suasana saling menyenangkan

-adapatasi perubahan : kehil.pasangan,kek. Fisik,penghasilan

- pertahankan keakraban pasangan

- melakukan life review masa lalu

KELOMPOK KLG. DI INDONESIA

Berdasar sosek dan kebut. Dasar

  1. PRASEJATERA,

belum dpt memenuhi kebut dasar minimal :

pengajaran agama, sandang, papan, pangan, kesehatan atau klg belum dapat memenuhi salah satu /lebih indikator ks tahap i

  1. KELUARGA SEJAHTRA (KS I)

telah dapat memenuhi kebut. Dasar scr minimal, tetapi blm dapat sosial psikologis, pendidikan, kb, interaksi lingk.

indikator :

- ibadah sesuai agama

- makan 2 kali sehari

- pakain berbeda tiap keperluan

- lantai bukan tanah

- kesehatan : anak sakit, ber kb, pus dibawa kesarana keseh.

3. KS II

indikator

- belum dapat menabung

- ibadah (anggota klg) sesui agama

- makan 2 kali sehari

- pakaian berbeda

- lantai bukan tanah

- kesehatan (idem)

- daging/ telur minimal 1 kali seminggu

- Pakaian baru setahun sekali

- Luas lantai 8 m 2 per orang

- Sehat 3 bulan terakhir

- Anggota yg berumur 15 tahun keatas punya penghasilan tetap

- Umur 10 – 60 th dapat baca tulis

- Umur 7-15 th bersekolah

- Anak hidup 2 /lebih . Klg masih pus saat ini berkontrasepsi

4. KS III

indikator :

- belum berkontribusi pd masyarakat

- ibadah sesuai agama

- pakain berbeda tiap keprluan

- lantai bukan tanah

- kesehatan idem

- anggota melaks. Ibadah…

- daging/telur seminggu sekali

- memperoleh pakaian baru dalam satu th terakhir

- luas lantai 8 m2 perorang

- anggota klg sehat dalm 3 bl terakhir

- klg berumur 15 th punya penghasilan tetap

- baca tulis latin 10 –60 th

- usia 7-15 bersekolah

- anak hidup 2/ lebih, pus saat ini ber kb

- upaya meningk agama

- klg punya tabungan

- makan bersama sehari sekali

- ikut keg. Masyarakat

- rekreasi 6 bl sekali

- informasi dari mass media

- menggunakan transportasi

5. KS TAHAP III PLUS

- dpt memenuhi seluruh kebutuhannya : dasar, sosial,pengembangan, kontribusi pd masy.

- indikator ks iii + (ditambah)

- memberikan sumb. Secara teratur pd masy

- aktif sbg pengurus yayasan / panti

Indicator gakin :

- Tak bisa makan 2 kali sehari atau lebih

- Tdk daging/ikan /telur / minggu sekali

- Tdk pakaian beda tiap aktifitas

- Tdk pakain baru, satu stel /tahun

- Lantai mayoritas tanah

- Lantai kurang dari 8 meter persegi untuk setiap penghuni

- Tdk ada anggota umur 15 tahun berpenghasilan tetap

- Anak sakit/pus ingin kb tak mampu ke yankes

- Anak 7-15 tahun tak berekolah

KESIMPULAN FUNGSI DIATAS :

  1. Asih, kasih sayang , perhatian, rasa aman kegangatan pd anggota klg shg dapat tumbang sesuai usia
  2. Asuh, perawatan agar selalu sehat fisik mental spiritual
  3. Asah, kebut. Pendidikan anak, untuk masa depan

FUNGSI KLG :

  1. Afektif, mengajarkan segala sesuatu u/ persiapan klg berhub. Dg orlain.
  2. Sosialisasi mengembangkan + berkehidupan sosial sbl meninggalkan rumah
  3. Reproduksi, mempertahankan generasi, kelangsungan hidup
  4. Ekonomi, memenuhi kebut. Klg, meningkatk., penghasilan
  5. Peraw. Kesehatan, merupakan tugas klg mempertahankan keadaan sehat
  6. Pendidikan,
  7. Religius
  8. Rekreasi

TUGAS KELUARGA DIBID. KESEHATAN (SBG. ETEOLOGI MASALAH)

  1. Mengenal masalah keseh. Klg
  2. Memutuskan tind keseh. Yg tepat bagi klg
  3. Merawat klg yg mengalami gangg keseh.
  4. Memodifikasi ling. U/ menjamin keseh. Klg
  5. Memanfaatkan fas. Yankes. Di sekitarnya

KELUARGA SBG SISTEM

klg merupakan sistem sosial yg terdiri kumpulan 2 /lebih yg punya peran sosial yg berbeda dengan ciri saling berhub. Dan tergantung antar individu

Alasan klg sbg sistem :

  1. Klg punya subsistem : anggota, fungsi, peran aturan , budaya
  2. Saling berhub dan ketergantungan
  3. Unit terkecil dari masy. Sbg suprasistem

Komponen sistem keluarga

  1. Input, anggota klg, struktur, fungsi, aturan, ling, budaya, agama
  2. Proses, proses pelaksanaan fungsi klg
  3. Out put, hasil berupa perilaku : sosial, agama, kesh,
  4. Feedback, pengontrol perilaku keluarga

KARAKTERISTIK KLG SEBAGAI SISTEM

  1. Sistem terbuka, sistem yg punya kesempatan dan mau menerima / memperhatikan lingk. Sekitar
  2. Sistem tertutup, kurang punya kesempatan, kurang mau menerima /memberi perhatian pada lingk. Sekitar

STANDAR PRAKTIK KLG PPNI :

  1. Standar praktik profesional

stndar i : pengkajian

standar ii : diagnosis

standar iii : perencanaan

standar iv : pelaks. Tind.

standar v : evaluasi

2. Standar kinerja profesional

Standar i : jaminan mutu

Standar ii : pendidikan

Standar iii : penilaian prestasi

Standar iv : kesejawatan

Standar v : etik

Standar vi : kolaborasi

Standar vii ; riset

Standar ix : pemnafaatan sumber

PENDAHULUAN

tujuan khusus adalah u/ mencapai kemampuan klg :

1. Mengenal mas kes klg

2. Memutuskan tindakan

3. Melakukan tindakan

4. Memelihara dan memodifikasi lingk.

5. Memanfaatkan sumber daya yg ada (puskesmas, posyandu)

Tujuan khusus askep keluarga :

  1. Mengenal mas. Keseh. Klg
  2. Memmutuskan tind. Yg tepat u/ ngatasi mas. Keseh klg
  3. Melakukan tind. Peraw. Keseh. Pd anggota yg sakit sesuai kemampuan
  4. Memodifikasi lingk. Klg
  5. Memanfaatkan sumber daya di masy. : puskesmas, posyandu, …

ASKEP KELUARGA

  1. Pengkajian
  2. Diagnosis keperawatan
  3. Perencanaan
  4. Implementasi
  5. Evaluasi

PERAN DAN FUNGSI PERAWAT DALAM ASKEP KLG :

  1. Pemberi askep
  2. Sbg. Pendidik
  3. Advokat
  4. Koordinator
  5. Kolaborator
  6. Pembaharu
  7. Pengelola

PERSIAPAN :

  1. Menetapkan klg sasaran
  2. Buat jadwal kunjungan
  3. Siapkan perlengkapan lap.

- family folder

- maslah klien dan klg

- phn kit

- alat bantu penyuluhan

PENGKAJIAN :

Tahap yg perlu dilakukan :

1. Bhsp

- perkenalkan

- jelaskan tujuan kunjungan

2. Pengk. Awal : terfokus

3. Pengkajian lanjut (thp ke 2)

pengkajian lengkap

PENGKAJIAN :

1. Berkaitan dg keluarga

- demografi,

- lingk

- struktur dan fungsi keluarga

- stress dan koping keluarga

- perkemb. Keluarga

2. Berkaitan dg indiv sbg anggota

- fisik

- mental

- sosial

- spiritual

- emosi

DIAGNOSIS :

Berdasar “ nanda “

  1. Gg. Proses klg
  2. Gg. Pemeliharaan kesehatan
  3. Nutrisi kurang /lebih
  4. Gg. Peran
  5. Pola eliminasi
  6. Sanitasi kurang
  7. Duka berkepanjangan
  8. Konflik pengamb. Keput
  9. Koping klg inadekuat
  10. Gg. Manaj. Pemeliharaan rumah
  11. Hambatan interaksi
  12. Kurang penget.
  13. Resiko [perub peran
  14. Resiko trauma
  15. Resiko pk
  16. Ketidak berdayaan
  17. Isolasi sosial
  18. Dll

SCORING :

Diag. Kep (baylon –maglaya)

Prioritas diranking

Contoh :

“ resiko jatuh lansia di klg bapak rr b/d. Ketidakmamp[uan menyediakan lingk. Aman”

DIAGNOSIS

PERENCANAAN

PELAKSANAAN

EVALUASI (LIHAT DI FORMAT)

DAFTAR DIAGNOSIS KEP KLG NANDA:

A. Lingkungan

  1. Kerusakan penatalaksanaan rumah (kebersihan)
  2. Resiko cedera
  3. Resiko infeksi

B. Struktur komunikasi

  1. Kerusakan komunikasi

C. Struktur peran

  1. Isolasi sosial
  2. Perub. Dlm proses klg (ada yg sakit)
  3. Berduka disfungsional
  4. Potensial pening mjd ortu
  5. Perub penamp. Peran
  6. Gangg. Citra tubuh

D. Afektif

  1. Resiko tindakan kekerasan
  2. Perub proses keluarga
  3. Koping klg tak efektif

E. Sosial

  1. Perilaku mencari bant. Kes
  2. Konflik peran ortu
  3. Perub pertukem
  4. Perub pemel. Kesh
  5. Kurang penget
  6. Isolasi sos
  7. Ketidak patuhan
  8. Gangg identitas pribadi

F. Fungsi perawat klg

  1. Perilaku mencari pertol kesh
  2. Ketidak efektifan penatalaks. Terapeutik klg
  3. Resiko penyebaran infeksi

G. Strategi koping

  1. Potensial peningk koping klg
  2. Koping klg tak efektif
  3. Resiko tindakan kekerasan

http://ktiskripsi.blogspot.com/

Alkohol, Arak dan Khamr

Alkohol, Arak dan Khamr

Alkohol dibuat dari proses fermentasi karbohidrat (pati) melalui 3 (tiga) tahapan, yaitu : (1) pembuatan larutan nutrien, (2) fermentasi, (3) destilasi etanol,.Dalam dunia kimia, farmasi dan kedokteran, alkohol banyak digunakan. Di antaranya :

1. Sebagai pelarut. Sesudah air, alkohol merupakan pelarut yang paling bermanfaat dalam farmasi. Digunakan sebagai pelarut utama untuk banyak senyawa organik (Ansel, 1989:313,606).

2. Sebagai bakterisida (pembasmi bakteri). Etanol 60-80 % berkhasiat sebagai bakterisida yang kuat dan cepat terhadap bakteri-bakteri. Penggunaannya adalah digosokkan pada kulit lebih kurang 2 menit untuk mendapat efek maksimal. Tapi alkohol tidak bisa memusnahkan spora (Tjay & Rahardja, 1986:170; Mutschler, 1991:612).

3. Sebagai alkohol penggosok. Alkohol penggosok ini mengandung sekitar 70 % v/v, dan sisanya air dan bahan lainnya. Digunakan sebagai rubefacient pada pemakaian luar dan gosokan untuk menghilangkan rasa sakit pada pasien yang terbaring lama (Ansel,1989:537).

4. Sebagai germisida alat-alat (Ansel, 1987:537).

5. Sebagai pembersih kulit sebelum injeksi (Ansel, 1987:537; IONI 2000:423).

6. Sebagai substrat, senyawa intermediat, solven, dan pengendap (Apriantono, http://www.indohalal.com)

Arak adalah minuman keras yang mengandung alkohol yang selalunya diminum ketika bersosial atau digunakan untuk meningkatkan ‘mood’, ia juga mengakibatkan ketagihan jika selalu diminum. Minuman beralkohol terdapat dalam pelbagai bentuk termasuk bir, wain, brandi dan wiski

Khamr berasal dari bahasa Arab yang berarti menutupi. Di sebut sebagai khamr, karena sifatnya bisa menutupi akal. Sedangkan menurut pengertian urfi pada masa itu, khamr adalah apa yang bisa menutupi akal yang terbuat dari perasan anggur (Naillul Authar IV 57).
Sedangkan dalam pengertian syara’, khamr tidak terbatas pada perasan anggur saja, tetapi semua minuman yang memabukkan dan tidak terbatas dari perasan anggur saja. Pengertian ini diambil berdasarkan beberapa hadits Nabi SAW. Diantaranya adalah hadits dari Nu’man bin Basyir bahwa Rasulullah SAW bersabda:
“Sesungguhnya dari biji gandum itu terbuat khamr, dari jewawut itu terbuat khamr, dari kismis terbuat khamr, dari kurma terbuat khamr, dan dari madu terbuat khamr” (HR Jama’ah, kecuali An Nasa’i
Alkohol, arak dan khamr merupakan tiga istilah yang saling berhubungan. Setiap arak atau minuman keras selalu dan sudah pasti mengandung alkohol dan dapat memabukkan atau menutupi akal. Arak juga bisa disebut sebagai khamr


Alkohol dalam Makanan/Minuman

Alkohol dalam bentuk arak (minuman beralkohol) banyak dijumpai sebagai campuran dalam makanan atau minuman. Berikut ini paparan fakta mengenai keberadaan alkohol (arak) dalam berbagai makanan dan minuman (sumber http://www.halalmui.or.id ) :

a. Khamr Sebagai Penyedap Masakan
Dikenal ada beberapa khamr (arak) sebagai penyedap masakan Cina, Jepang, Korea, dan masakan lokal yang berorientasi khamr. Khamr-khamr itu misalnya : (1) Ang Chiu, sebagai penyedap masakan, berguna untuk mempersedap masakan daging, tim ayam, sea food dan sayur mayur, (2) Lo Wong Chiu, digunakan sebagai saus penyedap masakan, dan digunakan juga sebagai penyedap masakan daging, tim ayam, sea food dan sayur mayur; (3) Anggur Beras Putih, sebagai rendaman obat Thionghoa dan berbagai masakan.

b. Khamr dalam Kue Ultah
Dalam sebuah resep kue ulang tahun yang terdapat di majalah ternama terdapat deretan bahan yang harus disiapkan. Salah satunya adalah ‘rhum’. Masyarakat ternyata acuh tak acuh terhadap keberadaan bahan tersebut. Mereka perlu tahu bahwa rhum adalah nama dari sebuah minuman keras dengan kadar alkohol sampai 30 persen.

c. Khamr dalam Makanan Bakaran
Dalam masakan ikan bakar, daging panggang atau barbeque, khamr sering digunakan untuk melunakkan daging dan menciptakan aroma khas khamr. Khamr yang sering digunakan adalah dari jenis arak putih atau anggur beras ketan. Memang tidak semua ikan bakar atau daging bakar menggunakan bahan ini. Tetapi dari beberapa kasus yang terjadi di restoran Jepang dan Cina, penggunaan khamr ini kadang-kadang ditemukan. Ciri masakan bakar yang menggunakan khamr agak susah dideteksi. Secara umum khamr dalam masakan bakar agak susah dideteksi. Secara umum daging atau ikan yang direndam khamr biasanya lebih lunak, lebih empuk dan memiliki aroma khas khamr. Tetapi tanda-tanda tersebut pada kenyataannya sulit dikenali, karena daging yang lunak dan empuk juga bisa disebabkan oleh enzim papain dari daun atau getah pepaya. Sedangkan aroma khamr sangat sulit dikenali, khususnya bagi orang awam yang tidak terbiasa dengan aroma tersebut.

d. Khamr dalam Tumisan
Masakan yang menggunakan cara pemasakan tumis juga sering menggunakan khamr sebagai bahan yang ditambahkan. Aroma khamr akan muncul pada saat tumisan dipanaskan dengan api dan khamr dimasukkan ke dalam wajan.

e. Khamr dalam Mie
Mie goreng dengan berbagai rasa kadang-kadang ditambahkan khamr untuk mencitarasakan khamr guna menambah selera. Seperti mie goreng ayam, mie goreng sea food, mie goreng udang dan seterusnya. Khamr yang digunakan dalam masakan ini biasanya adalah arak putih, arak merah atau mirin.

f. Khamr dalam Sea food
Jangan dikira setiap sea food pasti aman. Meskipun semua isi laut halal, tetapi cara memasaknya sangat beraneka ragam. Nah, pemasakan sea food itulah yang kadang-kadang menggunakan saus dan khamr untuk menghasilkan rasa dan aroma khas yang konon mengundang selera.

g. Khamr dalam Campuran Minuman
Di restoran-restoran atau cafe sering ditawarkan beraneka ragam minuman dengan nama keren dan penampilan yang eksentrik. Kadang-kadang kita terjebak dengan nama minuman itu yang kelihatannya aman. Misalnya avacado fload, lemon squash, oranges dan beberapa minuman yang berkonotasi buah-buahan. Tetapi tidak ada salahnya jika kita bertanya kepada pramusaji, apa saja isinya. Sebab tidak jarang di dalam minuman buah itupun ditambahkan rhum atau minuman keras yang lain. Katanya untuk menimbulkan sensasi khusus ketika kita meneguknya.

Dari semua jenis makanan yang berpeluang ditambahkan khamr atau minuman keras itu memang sulit dideteksi secara visual. Apalagi bagi kita yang tidak pernah mengenal minuman keras.

Adakah anda tahu kesannya terhadap badan?
• Ia memperlahankan fungsi sistem saraf pusat
• Mengubah persepsi, emosi, pergerakan, penglihatan, dan pendengaran seseorang

Apakah faktor-faktor resiko bagi seseorang untuk minum berlebihan?
• Faktor lingkungan contohnya :
o Mudah didapati
o Tidak mahal
o Pengiklanan yang menarik di media
• Faktor Sosial :
o Pengaruh rakan sebaya
o Latarbelakang keluarga
o Pengaruh idola atau orang-orang yang terkenal
o Budaya
• Faktor Biologi :
o Keturunan
o Personaliti (contohnya: impulsif, mudah gelabah/terangsang)

Mitos dan realiti tentang kegunaan alkohol
Mitos Realiti
• Penggunaan alkohol membuat seseorang individu berasa seperti dewasa.
• Remaja yang tidak mengambil alkohol adalah lebih matang dan dapat berfikir secara rasional. Mereka juga kurang bermasalah.
• Mitos Realiti
• Alkohol memudahkan mereka mendapat banyak kawan dan diterima sebagai sebahagian dari kumpulan tersebut.
• Rekan yang tidak menggunakan alkohol boleh lebih dipercayai dan merupakan kawan yang sentiasa lebih erat. Hubungan antara kawan juga lebih sehat tanpa penggunaan alkohol.

• Alkohol membuat seseorang itu nampak ‘cool’ dan bergaya.
• Alkohol mengakibatkan mabuk,yang mana ini jelas tidak ‘cool’ dan juga berbahaya.

• Alkohol menghilangkan rasa bosan dan memberi kesenangan.
• Kegembiraan adalah lebih nikmat apabila seseorang itu mengambil bahagian dalam aktiviti sehat dan tidak mabuk. Kegembiraan di bawah pengaruh alkohol tidak bertahan lama dan mudah dilupakan.

• Adalah lebih baik mengambil alkohol semasa remaja supaya anda boleh berhenti mengambilnya semasa dewasa ketika anda mempunyai lebih tanggungjawab.
• Remaja juga mempunyai tanggungjawab yang penting. Malahan, Alkohol boleh mengakibatkan ketagihan hingga ke peringkat dewasa. Memulakan aktiviti sihat pada usia yang muda menjadikan seseorang itu lebih baik dan sihat apabila dewasa kelak.

• Alkohol dapat membantu melepaskan anda dari permasalahan dalam hidup.
• Menghilangkan masalah melalui penggunaan alkohol merupakan penyelesaian jangka pendek sahaja. Menggunakan alkohol sebagai cara untuk menangani masalah adalah tidak benar. Penggunaannya akan menimbulkan lebih banyak masalah dalam jangka pendek dan panjang.

Apakah kesan-kesan pengambilan alkohol ?
Kesan pengambilan alkohol merangkumi berbagai aspek kehidupan seseorang. Implikasi sosial termasuk :
• Kurang konsentrasi yang boleh mengakibatkan kemerosotan prestasi pelajaran
• Ponteng sekolah yang boleh mempengaruhi pencapaian akademik
• Kelakuan Delinkuen/salah laku
• Penglibatan remaja dalam jenayah untuk membiayai tabiat ketagihan alkohol
Kesan fizikal alkohol adalah:
• Keadaan mabuk (seseorang itu berjalan terhuyung hayang, pertuturan yang tidak betul atau jelas, bingung dan bercelaru).
• Keracunan (gejala-gejala termasuk mengantuk yang teramat, tidak sedar diri, sukar bernafas, paras gula yang rendah, sawan dan juga boleh menyebabkan kematian).

Gangguan kesehatan termasuk:
• Kerosakan otak yang kekal
• Penyakit hepar ( radang hepar, sirosis, kanser)
• Penyakit jantung (peningkatan tekanan darah, angin ahmar/strok)
• Ulser pada perut (ulser gastrik dan peptik)
• Kanser usus
• Penurunan naluri seks dan mati pucuk
• Keguguran spontan
• Bayi yang tidak normal
• Anaemia (kandungan darah rendah)

Masalah Psikososial juga mungkin timbul. Antaranya :
• Perubahan personaliti
• Kemurungan
• Bunuh diri
• Kelakuan agresif

Adakah terdapat sebarang risiko tidak langsung terhadap kesihatan?
Ya, seseorang yang ketagihan alkohol lebih cenderung untuk :
• Terlibat dalam gejala seks yang tidak selamat (berisiko tinggi mendapat HIV/AIDS).
• Menunjukkan perilaku yang ganas.
• Menderita akibat kecederaan contohnya akibat kemalangan jalanraya.

Apakah itu ketagihan alkohol?
Penyalahgunaan alkohol menyebabkan seseorang terlalu bergantung kepadanya sepanjang masa.
Bilakah seseorang itu diyakini mengalami ketagihan alkohol?
• Keinginan yang teruk atau gian untuk minum alkohol
• Gagal untuk berhenti dari terus minum
• Gejala fizikal ( berketar, berpeluh dan loya)
• Perlu meningkatkan jumlah alkohol yang diminum
• Meneruskan tabiat minum walaupun mengalami banyak masalah yang diakibatkan oleh alkohol

Bagaimana anda boleh menghindari dari alkohol?
Anda sepatutnya :
• Mengamalkan gaya hidup sihat
• Berkemahiran untuk menangani stress dan masalah yang dihadapi
• Jauhi dari rakan yang mengambil alkohol
• Isikan masa sepenuhnya – Ambil bahagian dalam sukan, mulakan satu program senaman atau hobi, mengambil bahagian dalam aktiviti sosial yang berfaedah seperti PROSTAR dan Rekan Muda
• Jangan menerima ajakan untuk mencoba alkohol walaupun untuk sekali sahaja
• Jauhi dari tempat yang boleh menggalakkan pengambilan alkohol seperti bar, kelab malam, disko dan sebagainya.
• Mempunyai kemahiran/kebolehan bagi menangani masalah termasuk semua yang tertera di atas

Apakah yang boleh anda lakukan jika anda mempunyai masalah alkohol?
• Dapatkan pertolongan secepat mungkin
• Berbincang dengan orang dewasa yang boleh dipercayai (ibubapa, doktor, kaunselor sekolah dan sebagainya) atau seseorang yang boleh memberi sokongan

Jadi dapat disimpulkan bahwa penggunaan alkohol untuk makanan khususnya untuk minuman sangatlah berbahaya bagi kesehatan baik fisik maupun mental dan dari sudut pandang hukum Agama Islam sudah jelas bahwa setiap minuman yang beralkohol adalah khamr dan hukumnya haram, baik kadar alkoholnya tinggi atau rendah. Bukan karena bisa memabukkan atau tidak bagi peminumnya. Bukan pula sedikit atau banyaknya yang diminum. Juga bukan karena diminum sebagai khamr murni atau dicampur dengan minuman lainnya. Sebab, diharamkannya khamr semata-mata karena zatnya. Dari Ibnu Umar ra, Rasulullah bersabda:
‘Setiap yang memabukkan dalam keadaan banyaknya, maka sedikitnya pun haram’ (HR Ahmad, Ibnu Majah, Ibnu Hibban, dan Daruquthni)
Dari Aisyah, Rasulullah SAW bersabda:
”Setiap minuman yang memabukkan itu haram, dan jika banyaknya satu faraq (16 rithl = 7, 83 liter) dapat memabukkan, maka satu tangan dari minuman tersebut adalah haram” (HR Ahmad, Abu Daud, dan Tirmidziy)
Dengan demikian, beberapa jenis minuman seperti : brandy, wisky, martini, dan lain-lain yang kadar alkoholnya mencapai 40 sampai 60 persen termasuk kategori khamr. Demikian pula jenis janever, holland, geneva yang kadar alkoholnya mencapai 33 sampai 40 persen. Termasuk pula jenis bir ringan sperti eyl, portar, estote, dan munich, malaga, anggur cap orang tua, mengandung 2 hingga 15 persen alkohol. Semua jenis minuman tersebut adalah khamr dan haram hukumnya, meskipun namanya berbeda-beda. Dari Ubadah bin Ash Shamit bahwa Rasulullah SAW bersabda:
‘Sekelompok manusia dari umatku akan menghalalkan khamr, dengan nama (baru) yang mereka sebutkan’ (HR Imam Ahmad dan Ibnu Majah).

Sumber :
http://www.khilafah1924.org
http://id.wikipedia.org/wiki/alkohol
http://id.wikipedia.org/wiki/Minuman-beralkohol
http://id.wikipedia.org/wiki/arak
http://www.infosihat.gov.my/../ARAK.pdf
http://www.osolihin.wordpress.com/../hukum-khamr/
http://ktiskripsi.blogspot.com/

KONSEP KELUARGA

A. DEFINISI KELUARGA
Banyak ahli menguraikan pengertian keluarga sesuai dengan perkembangan social masyarakat, antara lain :
1. DUVALL & LOGAN (1986)
Sekumpulan orang dengan ikatan perkawinan, kelahiran dan adopsi yang bertujuan untuk menciptakan, mempertahankan budaya dan meningkatkan perkembangan fisik, mental, emosional dan social dari tiap anggota masyarakat.

2. BAILON & MAGLAYA
Dua orang atau lebih individu yang hidup dalam satu rumah tangga karena adanya hubungan darah, perkawinan atau adopsi dimana mereka saling berinteraksi, mempunyai peran masing-masing dan menciptakan serta mempertahankan suatu budaya

3. UU No. 10 TH.1992
Unit terkecil dari masyarakat yang terdiri dari suami istri atau suami istri dan anak atau ayah /ibu dan anak yang dibentuk berdasarkan suatu perkawinan yang sah, yang bertujuan menciptakan keluarga yang bahagia dan sejahtera yaitu dengan terpenuhinya kebutuhan hidup spiritual dan material, bertaqwa kepada Tuhan YME, memiliki hubungan yang serasi, selaras dan seimbang antar anggota dengan masyarakat.

4. FAMILY SERVICE AMERICA
Mendefinisikan keluarga sebagai kumpulan dua orang atau lebih yang disatukan oleh ikatan kebersamaan dan iakatan emosional dan yang mengidentifikasidirinya sebagai bagian dari keluarga.

B. TIPE KELUARGA
Keluarga yang memerlukan pelayanan kesehatan berasal dari berbagai macam pola kehidupan. Sesuai perkembangan social maka tipe keluarga berkembang mengikutinya. Agar dapat mengupayakan peran serta keluarga dalam meningkatkan derajat kesehatan maka perawat perawat perlu mengetahui berbagai tipe keluarga :
1. TIPE KELUARGA TRADISIONAL
a. NUCLEAR FAMILY
Suatu rumah tangga yang terdiri dari suami, istri dan anak (kandung, angkat, adopsi)
b. EXTENDED FAMILY
Keluarga inti ditambah dengan keluarga lain yang mempunyai hubungan darah missal : kakek, nenek, paman, bibi
c. DYAD FAMILY
Suatu rumah tangga yang terdiri dari suami, istri tanpa anak
d. SINGLE PARENT
Suatu rumah tangga yang terdiri dari satu orang tua dengan anak (kandung, angkat, adopsi). Kondisi ini disebabkan perceraian atau kematian.
e. SINGLE ADULT
Suatu rumah tangga yang terdiri dariseorang dewasa
f. KELUARGA USILA
Suatu rumah tangga yang terdiri dari suami, istri yang sudah berusia lanjut.
2. TIPE KELUARGA NON TRADISIONAL
a. COMMUNE FAMILY
Lebih dari satu keluarga tanpa pertalian darah yang hidup serumah
b. HOMOSEXUAL
Dua orang laki-laki / perempuan yang hidup dalam satu rumah tangga
c. COHABITING COUPLE
Laki-laki dan perempuan yang hidup dalam satu rumah tangga tanpa ikatan perkawinan

C. FUNGSI KELUARGA
Menurut Frieadman (1986) mengidentifikasi lima fungsi dasar keluarga yaitu :
Fungsi afektif
§ Memberikan perlindungan psikologis
§ Menciptakan rasa aman
§ Mengadakan interaksi
§ Mengenal identitas individu
Fungsi sosialisasi
§ Mengajarkan individu bagaimana berfungsi dan berperan di masyarakat
§ Pemeliharaan sistem nilai
§ Pembentukan norma dan tingkah laku
Fungsi Reproduksi
§ Menjamin kelangsungan generasi dan kelangsungan hidup bermasyarakat
Fungsi Ekonomi
§ Pengadaan sumber dana yang cukup
§ Pengalokasian dan pengaturan keseimbangan dana
Fungsi perawatan Kesehatan
§ Pemenuhan kebutuhan sandang, pangan dan papan
§ Pemenuhan sarana rekreasi
§ Pemberian perawatan kesehatan anggota keluarga
D. DEFINISI KESEHATAN KELUARGA
Kondisi atau proses individu secara keseluruhan berinteraksi dengan lingkungan dan keluarga memegang peranan penting dalam lingkungannya. (Anderson & Tominson, 1992). Kesehatan keluarga juga merupakan status kesehatan individu dalam keluarga (Mc. Ewan, 1992) juga merupakan perubahan dinamis yang bersifat relatif dari kesejahteraan mencakupfaktor biologis, psikologis, spiritual, social dan cultural dalam sistem keluarga. Pendekatan biopsikosos spiritual dipergunakan untuk individu anggota keluarga sebagai unit keluarga (Hanson,1985). Menurut Curran (1983) sifat keluarga sehat adalah :
Ada komunikasi dan didengar
Mendidik dan ada percakapan
Saling memperkuat dan mendukung satu dengan yang lain
Mendidik untuk respek pada orang lain
Mengembangkan rasa siling percaya
Memiliki selera bermain dan humor
Memiliki keseimbangan dalam interaksi antar anggota keluarga
Sharing tentang waktu yang menyenangkan
Memperlihatkan suasana saling tukar tanggung jawab
Menjalankan mana yang baik dan buruk serta benar dan salah
Mengadakan upacara keagamaan dan tradisi
Tukar menukar informasi tentang kepercayaan
Respek pada setiap privasi
Melayani nilai orang lain
Melihat dan memberi bantuan jika ada masalah
E. TUGAS KESEHATAN KELUARGA
Menurut Frieadman (1998) tugas kesehatan keluarga adalah sebagai berikut :
a. Mengenal masalah kesehatan
b. Membuat keputusan tindakan kesehatan yang tepat
c. Memberi perawatan pada anggota keluarga yang sakit
d. Mempertahankan atau menciptakan suasana rumah yang sehat
e. Mempertahankan hubungan dengan (menggunakan) fasilitas kesehatan masyarakat
F. KRITERIA KEMANDIRIAN KELUARGA
Keluarga mandiri Tingkat I
§ Menerima petugas kesehatan
§ Menerima pelayanan kesehatan yang diberikan sesuai rencana
Keluarga mandiri tingkat II
§ Tahu dan dapat mengungkapkan masalah kesehatan dengan benar
§ Memanfaatkan fasilitas pelayanan kesehatan secara aktif
§ Melakukan perawatan sederhana sesuai dengan yang dianjurkan
Keluarga mandiri tingkat III
Melaksanakan tindakan pencegahan secara aktif
Keluarga mandiri tingkat IV
§ Melaksanakan tindakan promotif secara aktif
G. KELUARGA SEJAHTERA
Defini
Keluarga yang dibentuk berdasarkan perkawinan yang sah, mampu memenuhi kebutuhan spiritual dan material yang layak, bertaqwa kepada Tuhan YME, memiliki hubungan serasi, selaras dan seimbang antar anggota dan antar keluarga dengan masyrakat dan lingkungan.
Indikator Keluarga Sejahtera
a. Keluarga pra sejahtera
Belum dapat memenuhi kebutuhan dasar minimum
b. Keluarga sejahtera I
Sudah dapat memenuhi kebutuhan dasar minimum : sandang, pangan, papan dan pelayanan kesehatan yang sangat dasar
- Seluruh anggota kleluarga makan 2x / hari
- Seluruh anggota keluarga mempunyai pakaian yang berbeda untuk dirumah, bekerja, sekolah dan bepergian.
- Bagian terluas dari rumah bukan dari tanah
- Bila anak sakit dibawa ke sarana / petugas kesehatan/ diberi pengobatan modern
c. Keluarga sejahtera II
Selain tujuan keluarga sejahtera I, dapat pula memenuhi kebutuhan social dan psikologis tetapi belum dapat memenuhi kebutuhan pengembangan.
- Minimal 1x seminggu keluarga menyediakan daging/ikan/telur sebagai lauk.
- Seluruh anggota keluarga mendapat minimal 1 stel pakaian baru dalam satu tahun terakhir
- Luas tanah rumah minimal 8 m2/ penghunji rumah
- Seluruh anggota keluarga usia 15 tahun punya pekerjaan tetap
- Seluruh anggota keluarga 1 bulan terakhir sehat dan dapat melaksanakan fungsi masing-masing
- Anggota keluarga beribadah secara teratur
d. Keluarga sejahtera III
Terpenuhinya tujuan keluarga sejahtera I s.d II, tapi belum aktif dalam menyumbangkan dan giat dalam usaha kemasyarakatan dilingkungan di desanya.
- Anak hidup maksimal 2 orang atau jika lebih dari 2 orang dan keluargha masih PUS saat ini memakai kontrasepsi
- Sebagian penghasilan keluarga disisihkan untuk tabungan
- Kebiasaan makan bersama keluarga minimal 1x / hari
- Keluarga biasa ikut serta kegiatan masyarakat dilingkungan
- Rekreasi bersama diluar rumah minimal 1x / 3 bulan
- Berita dapat diperoleh dari surat kabar/ majalah/ media elektronik
- Anggota keluarga mampu memanfaatkan sarana transportasi yang sesuai dengan daerahnya
-
e. Keluarga sejahtera III plus
Terpenuhinya tujuan keluarga sejahtera I – III dan teratur ikut menyumbang dalam kegiatan social dan aktif mengikuti gerakan tersebut.
- Anggota keluarga/ keluarga secara teratur memberi sumbangan bagi kegiatan social masyarakat dalam bentuk materi.
- Kepala keluarga / anggota keluarga aktif sebagai pengurus organisasi yayasan atau institusi masyarakat lain.

http://ktiskripsi.blogspot.com/

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KELURGA DENGAN BALITA DAN ANAK PRA SEKOLAHASUHAN KEPERAWATAN PADA KELURGA DENGAN BALITA DAN ANAK PRA SEKOLAH

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KELURGA DENGAN BALITA DAN
ANAK PRA SEKOLAH

FENOMENA PADA KELUARGA YANG SEDANG MENGASUH ANAK
l Perasaan cemas dan bahagia
l Perselisihan adanya perubahan peran
l Keseimbangan keluarga berubah karena munculnya orang baru
l Penyesuaian diri yang sulit menjadi orang tua

MASALAH YANG LAZIM TERJADI
l Suami merasa diabaikan
l Terdapat peningkatan perselisihan suami istri
l Interupasi dalam jadwal yang kontinu
l Kehidupan seksual dan sosial terganggu

TUGAS PERKEMBANGAN KELUARGA
l Membentuk keluarga muda sebagai sebuah unit yang mantap
l Rekonsiliasi tugas-tugas perkembangan yang bertentangan dan kebutuhan anggota keluarga
l Mempertahankan hubungan perkawinan yang memuaskan
l Memperluas persahabatan dengan keluarga besar dengan menambahkan peran-peran orang tua dan kakek-nenek

MEMBENTUK KELUARGA MUDA SEBAGAI SEBUAH UNIT YANG MANTAP
l Menyesuaikan terhadap perubahan –perubahan radikal
l Membedakan fungsi-fungsi suami istri sesuai tuntutan perawatan dan asuhan
l Penerimaan peran-peran tradisional dan pembagian tugas
l Peningkatan peran tangguang jawab ayah terhadap bayi

REKONSILIASI TUGAS-TUGAS PERKEMBANGAN
l Mempelajari isyarat-isyarat bayi
l Menerima pertumbuhan dan perkembangan (anak bermain, toilet training)
l Orangtua memahami tugas pertumbuhan dan perkembangan secara tepat

MEMPERTAHANKAN HUBUNGAN PERKAWINAN YANG MEMUASKAN
l Komunikasi dan interaksi perkawinan menurun
l Kesulitan – kesulitan seksual karena
– Keletihan ,
– Penurunan daya tarik seksual
– Ayah tersingkirkan oleh bayi
àPembentukan kembali pola-pola komunikasi yang memuaskan (pribadi, perkawinan)

MEMPERLUAS PERSAHABATAN DENGAN KELUARGA BESAR
l Pembentukan peran baru berkenaan dengan kakek dan nenek
l Penyesuaian hubungan dengan kelurga besar atau teman
l Mencari waktu yang tepat untuk mendapat dukungan sosial

PENGKAJIAN
l Peran sebagai orang tua
l Interaksi orang tua dan bayi
l Respons bayi
l Sikap orang tua sendiri
l Komunikasi
l Stimulus pada bayi

Energi yang Buat Bayi
Tuntutan dan Tekanan yang Bertentangan
Konflik yang menyiksa
Hubungan keluarga yang kokoh

MASALAH-MASALAH KESEHATAN PADA PROSES MENJADI ORANGTUA
l Pendidikan
l Perawatan bayi yang baik
l Pengenalan dan penanganan masalah kesehatan fisik
l Imunisasi
l Konseling perkembangan anak
l Keluarga berencana
l Peningkatan kesehatan umum

Masalah Kesehatan Lain
l Fasilitas perawatan anak untuk ibu bekerja
l Hubungan orang tua anak
l Masalah pengasuhan anak
l Masalah transisi menjadi orang tua

KELUARGA DENGAN ANAK PRA SEKOLAH
l Anak pertama usia 2, tahun -5 tahun
l Anggota keluarga bertambah
l Waktu orang tua habis untuk bekerja
l Anak mulai belajar mandiri
l Anak harus mencapai otonomi
l Kepuasaan hubungan seksual rendah karena pembicaraan berkisar pada anak

TUGAS PERKEMBANGAN KELUARGA PRA SEKOLAH
l Memenuhi kebutuhan anggota keluarga seperti rumah, ruang bermain, privasi, keamanan
l Mensosialisasikan anak
l Mengintegrasikan anak baru tanpa mengabaikan anak yang lain
l Mempertahankan hubungan yang sehat dalam keluarga

MEMENUHI KEBUTUHAN ANGGOTA KELUARGA
l Perlu tempat eksplorasi dunia
l Perlunya privasi bagi orang tua
l Peralatan dan fasilitas yang melindungi anak
l Keterlibatan yang besar untuk perawatan anak
l Anak belajar bertanggung jawab
l Anak belajar membantu orang tua
MENSOSIALISASIKAN ANAK
l Mengembangkan sikap diri atau konsep diri pada anak
l Belajar mengekspresikan diri dalam bentuk menangkap bahasa

MENGINTEGRASIKAN ANAK BARU
l Merupakan kejadian traumatik pada kakak
l Persaingan kakak- beradik ( sibling rivalry)

Cara mengatasi
l Berhubungan lebih banyak dengan anak yang lebih tua
l Belajar berpisah dengan anak

MEMPERTAHANKAN HUBUNGAN YANG SEHAT DALAM KELUARGA
l Interaksi suami istri lebih banyak berkaitan dengan tugas
l Pembicaraan pribadi lebih sedikit
l Rendahnya kepuasan hubungan seksual
à Orang tua mencari rekreasi ke luar rumah untuk mengawetkan muda

PENGKAJIAN
l Keamanan rumah yang beresiko terjadi kecelakaan
l Riwayat penyakit keluarga
l Peran anak dan orang tua
l Pertumbuhan dan perkembangan keluarga

MASALAH KESEHATAN
l Anak menjadi rentan terhadap penyakit
– V irus/ bakteri
– Kecelakaan ( jatuh, luka bakar dan laserasi)
l Masalah psikososial keluarga
l Persaingan antara adik –kakak
l Keluraga berencana
l kebutuhan tumbuh kembang
l Masalah pengasuhan: menelantarkan, penganiayaan dan masalah komunikasi

INTERVENSI
l Penyuluhan kesehatan tentang resiko dan cara mencegah penyakit atau kecelakaan
l Pendidikan kesehatan kepada keluarga tentang:
– Merokok dan obat-obatan
– Seksualitas,
– Keselamatan ,
– Diet dan olah raga
– Penanganan stres

TUJUAN UTAMA PERAWAT KELUARGA PADA KELUARGA PRA SEKOLAH
MEMBANTU MEREKA MEMBENTUK GAYA HIDUP YANG SEHAT DAN MEMFASILITASI PERUBAHAN FISIK, INTELEKTUAL, EMOSIONAL DAN SOSIAL SECARA OPTIMAL (WILLSON, 1988)
http://ktiskripsi.blogspot.com/

Model Kemitraan Keperawatan Komunitas Dalam Pengembangan Kesehatan Masyarakat

1. Latar Belakang

Pengembangan kesehatan masyarakat di Indonesia yang telah dijalankan selama ini masih memperlihatkan adanya ketidaksesuaian antara pendekatan pembangunan kesehatan masyarakat dengan tanggapan masyarakat, manfaat yang diperoleh masyarakat, dan partisipasi masyarakat yang diharapkan. Meskipun di dalam Undang-undang No. 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan telah ditegaskan bahwa tujuan pembangunan kesehatan masyarakat salah satunya adalah meningkatkan kemandirian masyarakat dalam mengatasi masalah kesehatannya. Oleh karena itu pemerintah maupun pihak-pihak yang memiliki perhatian cukup besar terhadap pembangunan kesehatan masyarakat –termasuk perawat spesialis komunitas— perlu mencoba mencari terobosan yang kreatif agar program-program tersebut dapat dilaksanakan secara optimal dan berkesinambungan.


Salah satu intervensi keperawatan komunitas di Indonesia yang belum banyak digali adalah kemampuan perawat spesialis komunitas dalam membangun jejaring kemitraan di masyarakat. Padahal, membina hubungan dan bekerja sama dengan elemen lain dalam masyarakat merupakan salah satu pendekatan yang memiliki pengaruh signifikan pada keberhasilan program pengembangan kesehatan masyarakat (Kahan & Goodstadt, 2001). Pada bagian lain Ervin (2002) menegaskan bahwa perawat spesialis komunitas memiliki tugas yang sangat penting untuk membangun dan membina kemitraan dengan anggota masyarakat. Bahkan Ervin mengatakan bahwa kemitraan merupakan tujuan utama dalam konsep masyarakat sebagai sebuah sumber daya yang perlu dioptimalkan (community-as-resource), dimana perawat spesialis komunitas harus memiliki ketrampilan memahami dan bekerja bersama anggota masyarakat dalam menciptakan perubahan di masyarakat.

Terdapat lima model kemitraan yang menurut anggapan penulis cenderung dapat dipahami sebagai sebuah ideologi kemitraan, sebab model tersebut merupakan azas dan nafas kita dalam membangun kemitraan dengan anggota masyarakat lainnya. Model kemitraan tersebut antara lain: kepemimpinan (manageralism) (Rees, 2005), pluralisme baru (new-pluralism), radikalisme berorientasi pada negara (state-oriented radicalism), kewirausahaan (entrepreneurialism) dan membangun gerakan (movement-building) (Batsler dan Randall, 1992). Berkaitan dengan praktik keperawatan komunitas di atas, maka model kemitraan yang sesuai untuk mengorganisasi elemen masyarakat dalam upaya pengembangan derajat kesehatan masyarakat dalam jangka panjang adalah model kewirausahaan (entrepreneurialism). Model kewirausahaan memiliki dua prinsip utama, yaitu prinsip otonomi (autonomy) –kemudian diterjemahkan sebagai upaya advokasi masyarakat—dan prinsip penentuan nasib sendiri (self-determination) yang selanjutnya diterjemahkan sebagai prinsip kewirausahaan.

Menurut penulis model kewirausahaan memiliki pengaruh yang strategis pada pengembangan model praktik keperawatan komunitas dan model kemitraan dalam pengorganisasian pengembangan kesehatan masyarakat di Indonesia. Praktik keperawatan mandiri atau kelompok hubungannya dengan anggota masyarakat dapat dipandang sebagai sebuah institusi yang memiliki dua misi sekaligus, yaitu sebagai institusi ekonomi dan institusi yang dapat memberikan pembelaan pada kepentingan masyarakat terutama berkaitan dengan azas keadilan sosial dan azas pemerataan bidang kesehatan. Oleh karenanya praktik keperawatan sebagai institusi sangat terpengaruh dengan dinamika perkembangan masyarakat (William, 2004; Korsching & Allen, 2004), dan perkembangan kemasyarakatan tentunya juga akan mempengaruhi bentuk dan konteks kemitraan yang berpeluang dikembangkan (Robinson, 2005) sesuai dengan slogan National Council for Voluntary Organizations (NCVO) yang berbunyi : “New Times, New Challenges” (Batsler dan Randall, 1992).

Pada bagian lain, saat ini mulai terlihat kecenderungan adanya perubahan pola permintaan pelayanan kesehatan pada golongan masyarakat tertentu dari pelayanan kesehatan tradisional di rumah sakit beralih ke pelayanan keperawatan di rumah disebabkan karena terjadinya peningkatan pembiayaan kesehatan yang cukup besar dibanding sebelumnya (Depkes RI, 2004a, 2004b; Sharkey, 2000; MacAdam, 2000). Sedangkan secara filosofis, saat ini telah terjadi perubahan “paradigma sakit” yang menitikberatkan pada upaya kuratif ke arah “paradigma sehat” yang melihat penyakit dan gejala sebagai informasi dan bukan sebagai fokus pelayanan (Cohen, 1996). Sehingga situasi tersebut dapat dijadikan peluang untuk mengembangkan praktik keperawatan komunitas beserta pendekatan kemitraan yang sesuai di Indonesia.

Tulisan ini mencoba untuk: (1) mengidentifikasi model kemitraan keperawatan komunitas dalam pengembangan kesehatan masyarakat; (2) menganalisis kemanfaatan model kemitraan keperawatan komunitas dalam pengembangan kesehatan masyarakat; dan (3) mengidentifikasi implikasi model pada pengembangan kebijakan keperawatan komunitas dan promosi kesehatan.

2. Pengembangan Kesehatan Masyarakat

Nies dan Mc. Ewan (2001) mendeskripsikan pengembangan kesehatan masyarakat (community health development) sebagai pendekatan dalam pengorganisasian masyarakat yang mengkombinasikan konsep, tujuan, dan proses kesehatan masyarakat dan pembangunan masyarakat. Dalam pengembangan kesehatan masyarakat, perawat spesialis komunitas mengidentifikasikan kebutuhan masyarakat yang berkaitan dengan kesehatan kemudian mengembangkan, mendekatkan, dan mengevaluasi tujuan-tujuan pembangunan kesehatan melalui kemitraan dengan profesi terkait lainnya (Nies & Mc.Ewan, 2001; CHNAC, 2003; Diem & Moyer, 2004; Falk-Rafael, et al.,1999).

Bidang tugas perawat spesialis komunitas tidak bisa terlepas dari kelompok masyarakat sebagai klien termasuk sub-sub sistem yang terdapat di dalamnya, yaitu: individu, keluarga, dan kelompok khusus. Menurut Nies dan McEwan (2001), perawat spesialis komunitas dalam melakukan upaya peningkatan, perlindungan dan pemulihan status kesehatan masyarakat dapat menggunakan alternatif model pengorganisasian masyarakat, yaitu: perencanaan sosial, aksi sosial atau pengembangan masyarakat. Berkaitan dengan pengembangan kesehatan masyarakat yang relevan, maka penulis mencoba menggunakan pendekatan pengorganisasian masyarakat dengan model pengembangan masyarakat (community development).

Tujuan dari penggunaan model pengembangan masyarakat adalah (1) agar individu dan kelompok-kelompok di masyarakat dapat berperan-serta aktif dalam setiap tahapan proses keperawatan, dan (2) perubahan perilaku (pengetahuan, sikap dan tindakan) dan kemandirian masyarakat yang dibutuhkan dalam upaya peningkatan, perlindungan dan pemulihan status kesehatannya di masa mendatang (Nies & McEwan, 2001; Green & Kreuter, 1991). Menurut Mapanga dan Mapanga (2004) tujuan dari proses keperawatan komunitas adalah meningkatkan kemampuan dan kemandirian fungsional klien / komunitas melalui pengembangan kognisi dan kemampuan merawat dirinya sendiri. Pengembangan kognisi dan kemampuan masyarakat difokuskan pada dayaguna aktifitas kehidupan, pencapaian tujuan, perawatan mandiri, dan adaptasi masyarakat terhadap permasalahan kesehatan sehingga akan berdampak pada peningkatan partisipasi aktif masyarakat (Lihat Gambar 1).

Gambar 1. Partisipasi klien sebagai Luaran Kesehatan pada Praktik Keperawatan Komunitas

Sumber : Kudakwashe G. Mapanga dan Margo B. Mapanga (2004) halaman 275

Perawat spesialis komunitas perlu membangun dukungan, kolaborasi, dan koalisi sebagai suatu mekanisme peningkatan peran serta aktif masyarakat dalam perencanaan, pelaksanaan, pengawasan, dan evaluasi implementasi upaya kesehatan masyarakat. Anderson dan McFarlane (2000) dalam hal ini mengembangkan model keperawatan komunitas yang memandang masyarakat sebagai mitra (community as partner model). Fokus dalam model tersebut menggambarkan dua prinsip pendekatan utama keperawatan komunitas, yaitu (1) lingkaran pengkajian masyarakat pada puncak model yang menekankan anggota masyarakat sebagai pelaku utama pembangunan kesehatan, dan (2) proses keperawatan.

Asumsi dasar mekanisme kolaborasi perawat spesialis komunitas dengan masyarakat tersebut adalah hubungan kemitraan yang dibangun memiliki dua manfaat sekaligus yaitu meningkatnya partisipasi aktif masyarakat dan keberhasilan program kesehatan masyarakat (Kreuter, Lezin, & Young, 2000). Mengikutsertakan masyarakat dan partisipasi aktif mereka dalam pembangunan kesehatan dapat meningkatkan dukungan dan penerimaan terhadap kolaborasi profesi kesehatan dengan masyarakat (Schlaff, 1991; Sienkiewicz, 2004). Dukungan dan penerimaan tersebut dapat diwujudkan dengan meningkatnya sumber daya masyarakat yang dapat dimanfaatkan, meningkatnya kredibilitas program kesehatan, serta keberlanjutan koalisi perawat spesialis komunitas-masyarakat (Bracht, 1990).

3. Model Kemitraan Keperawatan Komunitas dalam Pengembangan Kesehatan Masyarakat

Menurut Hitchcock, Scubert, dan Thomas (1999) fokus kegiatan promosi kesehatan adalah konsep pemberdayaan (empowerment) dan kemitraan (partnership). Konsep pemberdayaan dapat dimaknai secara sederhana sebagai proses pemberian kekuatan atau dorongan sehingga membentuk interaksi transformatif kepada masyarakat, antara lain: adanya dukungan, pemberdayaan, kekuatan ide baru, dan kekuatan mandiri untuk membentuk pengetahuan baru. Sedangkan kemitraan memiliki definisi hubungan atau kerja sama antara dua pihak atau lebih, berdasarkan kesetaraan, keterbukaan dan saling menguntungkan atau memberikan manfaat (Depkes RI, 2005). Partisipasi klien/masyarakat dikonseptualisasikan sebagai peningkatan inisiatif diri terhadap segala kegiatan yang memiliki kontribusi pada peningkatan kesehatan dan kesejahteraan (Mapanga & Mapanga, 2004)

Pemberdayaan, kemitraan dan partisipasi memiliki inter-relasi yang kuat dan mendasar. Perawat spesialis komunitas ketika menjalin suatu kemitraan dengan masyarakat maka ia juga harus memberikan dorongan kepada masyarakat. Kemitraan yang dijalin memiliki prinsip “bekerja bersama” dengan masyarakat bukan “bekerja untuk” masyarakat, oleh karena itu perawat spesialis komunitas perlu memberikan dorongan atau pemberdayaan kepada masyarakat agar muncul partisipasi aktif masyarakat (Yoo et. al, 2004). Membangun kesehatan masyarakat tidak terlepas dari upaya-upaya untuk meningkatkan kapasitas, kepemimpinan dan partisipasi masyarakat (Nies & McEwan, 2001), namun perawat spesialis komunitas perlu membangun dan membina jejaring kemitraan dengan pihak-pihak yang terkait (Robinson, 2005), misalnya: profesi kesehatan lainnya, penyelenggara pemeliharaan kesehatan, Puskesmas, donatur / sponsor, sektor terkait, organisasi masyarakat, dan tokoh masyarakat.

Berdasarkan hubungan elemen-elemen di atas, maka penulis mencoba untuk merumuskan sebuah model kemitraan keperawatan komunitas dalam pengembangan kesehatan masyarakat yang dijiwai oleh ideologi entrepreneurialisme (Gambar 2).

Gambar 2. Model Kemitraan Keperawatan Komunitas dalam Pengembangan Kesehatan Masyarakat

Model kemitraan keperawatan komunitas dalam pengembangan kesehatan masyarakat merupakan suatu paradigma yang memperlihatkan hubungan antara beberapa konsep penting, tujuan dan proses dalam tindakan pengorganisasian masyarakat yang difokuskan pada upaya peningkatan kesehatan (Hickman, 1995 dalam Nies & McEwan, 2001). Konsep utama dalam model tersebut adalah kemitraan, kesehatan masyarakat, nilai dan kepercayaan yang dianut, pengetahuan, partisipasi, kapasitas dan kepemimpinan yang didasarkan pada pelaksanaan prinsip-prinsip kewirausahaan dan advokasi masyarakat.

4. Ideologi Entrepreneurialisme dalam Kemitraan Keperawatan Komunitas

Profesi perawat memiliki implikasi pada pengembangan praktik keperawatan yang profesional, etis dan legal (PPNI, 2004) sehingga profesi perawat berhak menyelenggarakan praktik secara mandiri atau berkelompok. Berdasarkan tugas dan fungsi perawat spesialis komunitas tersebut, penulis berpandangan bahwa perawat spesialis komunitas dalam membina kemitraan di masyarakat perlu memiliki ideologi kewirausahaan (entrepreunership) sebab segala tindakan dan kebijakan yang diambil selalu berkaitan dinamika perubahan kehidupan masyarakat, baik kehidupan sosial, ekonomi, dan politik (William, 2004; Korsching & Allen, 2004).

Menurut Batsleer dan Randall (1992) ideologi entrepreneurialisme memiliki dua karakter, yaitu: prinsip otonomi (autonomy) dan penentuan nasib sendiri (self determination). Dalam prinsip otonomi, perawat spesialis komunitas berupaya membela dan memperjuangkan hak-hak dan keadilan masyarakat dalam sistem pelayanan kesehatan. Oleh karena itu, perawat spesialis komunitas memainkan perannya sebagai advokator (pembela) dan mitra (partner) bagi kliennya (masyarakat) (Stanhope & Lancaster, 1997). Sedangkan dalam prinsip penentuan nasib sendiri, perawat sebagai profesi berhak untuk melaksanakan praktik legal yang dapat diselenggarakan secara mandiri maupun berkelompok sesuai dengan Peraturan Menteri Kesehatan No. 1239 tahun 2001. Praktik keperawatan komunitas sebagai institusi perlu dijalankan secara profesional agar dapat bertahan menghadapi perkembangan kehidupan sosial, ekonomi dan politik yang dinamis.

4.1. Advokasi

Walaupun istilah advokasi mempunyai banyak definisi, dua definisi di bawah ini mengandung konsep-konsep utama advokasi hak asasi manusia (hak masyarakat) yang esensial. Pengertian pertama advokasi sebagai segala aktivitas yang ditujukan untuk meningkatkan kesadaran publik di antara para pengambil-keputusan dan khalayak umum atas sebuah masalah atau kelompok masalah, dalam rangka menghasilkan berbagai perubahan kebijakan dan perbaikan situasi (Black, 2002, hal.11). Pengertian kedua, advokasi keadilan sosial, yaitu upaya pencapaian hasil-hasil yang berpengaruh – meliputi kebijakan-publik dan keputusan-keputusan alokasi sumber daya dalam sistem dan institusi politik, ekonomi, dan sosial – yang mempengaruhi kehidupan banyak orang secara langsung (Cohen et al., 2001, hal. 8).

4.2. Kewirausahaan

Definisi kewirausahaan adalah individu (kelompok) yang dapat mengidentifikasi kesempatan berdasarkan kemampuan, keinginan, dan kepercayaan yang dimilikinya serta membuat pertimbangan dan keputusan yang berkaitan dengan upaya menyelaraskan sumber daya dalam pencapain keuntungan personal (Otuteye & Sharma, 2004). Perawat spesialis komunitas dapat dianggap sebagai institusi penyedia layanan keperawatan. Sehingga untuk menggambarkan faktor-faktor institusi yang dapat mempengaruhi etos kewirausahaan perawat spesialis komunitas, Penulis menggunakan kerangka kerja Douglass C. North dalam Mary Jesselyn Co (2004). Kerangka kerja tersebut menganalisis bagaimana institusi dan perubahan institusi berdampak pada penampilan ekonominya.

Gambar 3. Beberapa faktor yang mempengaruhi etos kewirausahaan

Sumber : Mary Jesselyn Co (2004) halaman 188.

Kemitraan antara perawat spesialis komunitas dan pihak-pihak terkait dengan masyarakat digambarkan dalam bentuk garis hubung antara komponen-komponen yang ada. Hal ini memberikan pengertian perlunya upaya kolaborasi dalam mengkombinasikan keahlian masing-masing yang dibutuhkan untuk mengembangkan strategi peningkatan kesehatan masyarakat. Pihak-pihak terkait yang dapat dibina hubungannya dengan perawat spesialis komunitas dalam pengembangan kesehatan masyarakat, adalah :

  1. Profesi kesehatan lainnya, misalnya dokter, ahli gizi, sanitarian, bidan/bidan di desa, atau fisioterapist.
  2. Puskesmas
  3. Organisasi Penyelenggara Pemeliharaan Kesehatan (PPK) atau Health Maintenance Organization (HMO). Organisasi PPK memberikan jaminan pelayanan keperawatan dan pelayanan profesi kesehatan lainnya dengan prinsip managed care. Managed care yaitu suatu integrasi antara pembiayaan dan penyediaan pelayanan kesehatan yang tepat guna untuk menjamin anggota masyarakat (Thabrany, 2000a). Pembiayaan managed care menggunakan sistem kapitasi (Thabrany, 2000b).
  4. Donatur / sponsor, merupakan badan atau lembaga yang dapat memberikan bantuan finansial baik secara sukarela atau mengikat untuk program pengembangan kesehatan masyarakat.
  5. Lintas sektor terkait, merupakan institusi formal (birokrasi) yang terkait dengan upaya pengembangan kesehatan masyarakat dari tingkat teknis lapangan sampai ke tingkat kabupaten/kota. Misalnya: Pemerintah Daerah, Bappeda, Dinas Pertanian / Peternakan, BKKBN, PDAM, Dinas Pekerjaan Umum, dan lain-lain.
  6. Organisasi masyarakat formal dan informal, misalnya: Organisasi Muhammadiyah/Aisyah, Nahdlatul Ulama/Fatayat NU, Lembaga Swadaya Masyarakat, TP-PKK, kelompok pengajian, kelompok arisan, dasa wisma, dan lain-lain.
  7. Tokoh masyarakat atau tokoh agama yang memiliki pengaruh kuat di tengah masyarakat (key persons).

Kesehatan masyarakat digambarkan sebagai bangun segitiga beserta unsur partisipasi, kapasitas, dan kepemimpinan (Nies & Mc. Ewan, 2001). Partisipasi berkaitan dengan peran serta aktif seluruh komponen masyarakat, yaitu individu, keluarga, kelompok risiko tinggi, dan sektor terkait lainnya, dalam upaya perencanaan dan peningkatan derajat kesehatan secara komprehensif. Kapasitas memiliki makna tingkat pengetahuan, kemampuan, dan ketrampilan anggota masyarakat secara keseluruhan yang diperlukan untuk melaksanakan tugas dan fungsinya dalam upaya peningkatan kesehatan masyarakat. Sedangkan kepemimpinan mengindikasikan kemampuan mempengaruhi anggota masyarakat dalam meningkatkan fungsionalnya pada pengembangan kesehatan masyarakat. Masyarakat memerlukan pemimpin yang dapat mengorganisasikan, bertanggungjawab, dan memobilisasi anggota masyarakat lain untuk lebih berperan aktif dalam pengembangan kesehatannya.
Garis panah penghubung masing-masing unsur dalam bangun segitiga menggambarkan tingkat pengetahuan, kepercayaan dan nilai-nilai panutan masyarakat yang berpengaruh terhadap upaya peningkatan derajat kesehatan masyarakat. Fokus utama model adalah masyarakat atau komunitas secara keseluruhan. Tiga tanda panah yang mengarah pada “Kesehatan Masyarakat” memberikan makna adanya interaksi berbagai unsur dalam model untuk mencapai tujuan bersama yaitu masyarakat yang sehat. Menurut Nies dan Mc. Ewan (2001), terminologi “kesehatan masyarakat” dalam pembangunan kesehatan masyarakat memiliki dua pengertian. Pertama, digunakan untuk menggambarkan pencapaian kualitas kesehatan yang diinginkan atau dampak dari upaya pengembangan kesehatan masyarakat (outcome indicators). Dan kedua, sebagai perangkat utama untuk mencapai tujuan pembangunan kesehatan masyarakat (input indicators dan process indicators).

5. Analisis Kemanfaatan Model Kemitraan Keperawatan Komunitas

Berdasarkan penjelasan model kemitraan keperawatan komunitas dalam pengembangan kesehatan komunitas, maka perlu dianalisis dari beberapa aspek, yaitu :

5.1. Keperawatan Spesialis Komunitas

  1. Dapat dikembangkannya model praktik keperawatan komunitas yang terintegrasi antara praktik keperawatan dengan basis riset ilmiah.
  2. Mengenalkan model praktik keperawatan komunitas.
  3. Meningkatkan proses berpikir kritis dan pengorganisasian pengembangan kesehatan masyarakat
  4. Meningkatkan jejaring dan kemitraan dengan masyarakat dan sektor terkait
  5. Meningkatkan legalitas praktik keperawatan spesialis komunitas
  6. Mendorong praktik keperawatan komunitas yang profesional

5.2. Sistem Pendidikan Keperawatan Komunitas

  1. Memperbaiki sistem pendidikan keperawatan spesialis komunitas yang profesional dan aplikatif
  2. Meningkatkan kepercayaan diri perawat pada umumnya dan perawat spesialis komunitas pada khususnya
  3. Menunjukkan peran baru perawat spesialis komunitas
  4. Sejak awal mahasiswa keperawatan komunitas dikenalkan dengan kegiatan intervensi keperawatan pada pengembangan kesehatan masyarakat, yaitu: kolaborasi, kemitraan dan mengembangkan jaringan kerja.
  5. Meningkatkan kesiapan mahasiswa pendidikan keperawatan spesialis komunitas dalam praktik keperawatan komunitas
  6. Merumuskan bentuk pembelajaran keperawatan komunitas yang inovatif

5.3. Regulasi

  1. Mendorong para pengambil kebijakan dan elemen-elemen yang terkait lainnya untuk memberikan perhatian dan dukungan pada model praktik keperawatan komunitas.
  2. Mendorong pemerintah mengeluarkan regulasi yang dapat memberikan jaminan pada penyelenggaraan praktik keperawatan komunitas yang profesional
  3. Mendorong terbentuknya sistem monitoring dan evaluasi yang efisien dan efektif

5.4. Sistem Pelayanan Kesehatan

  1. Memperkenalkan dan meningkatkan sistem praktik keperawatan komunitas sebagai Sub Sistem Kesehatan Nasional
  2. Meningkatkan jaringan kerja pelayanan kesehatan yang berbasis rumah sakit dan masyarakat
  3. Meningkatkan jaringan kerja pelayanan keperawatan komunitas dengan elemen-elemen dalam masyarakat
  4. Mengarahkan penyelenggaraan pelayanan kesehatan yang berorientasi pada paradigma sehat atau mengutamakan upaya preventif dan promotif
  5. Mempercepat pencapaian Indonesia Sehat 2010 melalui Kabupaten/Kota Sehat, Kecamatan Sehat, dan Desa Sehat.
  6. Menurunkan angka pelayanan di rumah sakit
  7. Membentuk model praktik keperawatan komunitas bagi daerah-daerah lain di Indonesia
  8. Meningkatkan sistem informasi kesehatan masyarakat berbasis pelayanan keperawatan
  9. Meningkatkan jaringan kerja dengan spesialisasi keperawatan lainnya

5.5. Masyarakat

  1. Meningkatkan aksesibilitas masyarakat terhadap fasilitas pelayanan kesehatan
  2. Meningkatkan pelayanan pasca kesakitan (pasca hospitalisasi) pada masyarakat.
  3. Meningkatkan peran serta aktif individu, keluarga, kelompok khusus, dan masyarakat dalam pengembangan kesehatan masyarakat.
  4. Meningkatkan kapasitas, partisipasi, dan kepemimpinan anggota masyarakat dalam pengembangan kesehatan masyarakat.
  5. Meningkatkan kolaborasi, kemitraan, dan jaringan kerja antar elemen masyarakat dalam pengembangan kesehatan masyarakat.
  6. Meningkatkan pengetahuan, kepercayaan dan nilai-nilai masyarakat dalam hidup berperilaku sehat.
  7. Meningkatkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat masyarakat terutama upaya kesehatan mandiri yang bersifat preventif dan promotif.
  8. Menurunkan insidensi penyakit menular berbasis masyarakat dan lingkungan.

6. Implikasi Model pada Pengembangan Kebijakan Keperawatan Komunitas dan Promosi Kesehatan

6.1. Implikasi model pada pengembangan kebijakan keperawatan komunitas

Berdasarkan kompleksitas bidang tugas keperawatan komunitas terutama dalam membangun kolaborasi, kemitraan dan jaringan kerja dengan elemen masyarakat lainnya, maka perlu :

  1. Didorong penyusunan Undang-undang tentang Profesi Perawat
  2. Disusun Kode Etik dan Standar Kompetensi Perawat Spesialis Komunitas Indonesia
  3. Disusun Standar Pelayanan Praktik Keperawatan Komunitas
  4. Disusun Sistem Keperawatan Komunitas termasuk sistem pendidikan berkelanjutan
  5. Dibentuk kolegia perawat spesialis komunitas untuk meningkatkan standar mutu pelayanan
  6. Dibentuk suasana praktik keperawatan komunitas yang berbasis pada penelitian ilmiah
  7. Menyusun integrasi antara sistem pendidikan perawat spesialis komunitas dengan praktik perawat spesialis komunitas.

6.2. Implikasi model pada promosi kesehatan

  1. Meningkatkan peran dan fungsi perawat spesialis komunitas sebagai koordinator, kolaborator, penghubung, advokat, penemu kasus, pemimpin, pemberi pelayanan keperawatan, role model, pengelola kasus, referal resource, peneliti, community care agent dan change agent.
  2. Memberikan pelayanan keperawatan berupa asuhan keperawatan/ kesehatan Individu, keluarga, kelompok, masyarakat dalam upaya peningkatan kesehatan, pencegahan penyakit, penyembuhan penyakit, pemulihan kesehatan serta pembinaan peran serta masyarakat dalam rangka kemandirian di bidang keperawatan/ kesehatan
  3. Meningkatnya kolaborasi, kemitraan dan jaringan kerja perawat spesialis komunitas dengan masyarakat maupun elemen masyarakat terkait lainnya.
  4. Meningkatnya upaya preventif dan promotif dibanding upaya kuratif dan rehabilitatif.
  5. Meningkatnya tiga upaya preventif (tindakan pencegahan)

7. Penutup

Fokus praktik keperawatan komunitas adalah individu, keluarga, kelompok khusus dan masyarakat. Pengorganisasikan komponen masyarakat yang dilakukan oleh perawat spesialis komunitas dalam upaya peningkatan, perlindungan dan pemulihan status kesehatan masyarakat dapat menggunakan pendekatan pengembangan masyarakat (community development). Intervensi keperawatan komunitas yang paling penting adalah membangun kolaborasi dan kemitraan bersama anggota masyarakat dan komponen masyarakat lainnya, karena dengan terbentuknya kemitraan yang saling menguntungkan dapat mempercepat terciptanya masyarakat yang sehat.

“Model kemitraan keperawatan komunitas dalam pengembangan kesehatan masyarakat” merupakan paradigma perawat spesialis komunitas yang relevan dengan situasi dan kondisi profesi perawat di Indonesia. Model ini memiliki ideologi kewirausahaan yang memiliki dua prinsip penting, yaitu kewirausahaan dan advokasi pada masyarakat untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang sesuai dengan azas keadilan sosial dan azas pemerataan.

Dalam tulisan ini telah disajikan analisis mengenai kemanfaatan model kemitraan keperawatan komunitas terhadap: keperawatan spesialis komunitas, sistem pendidikan keperawatan komunitas, regulasi, sistem pelayanan kesehatan, dan masyarakat serta implikasi model terhadap pengembangan kebijakan keperawatan komunitas dan promosi kesehatan di Indonesia.

DAFTAR PUSTAKA:

  1. Anderson, E.T. & J. McFarlane, 2000. Community as Partner Theory and Practice in Nursing 3rd Ed. Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins.
  2. Black, M. 2002. A Handbook on Advocacy – Child Domestic Workers: Finding a Voice. Anti-Slavery International. Sussex, UK: The Printed Word.
  3. Bracht, N. (Ed.). 1990. Health promotion at the community level. Newbury Park, CA: Sage.
  4. Co, M.J. 2004. The Formal Institutional Framework of Entrepreneurship in the Philippines: Lessons for Developing Countries. The Journal of Entrepreneurship, 13 (2): 185-203.
  5. Cohen, E. 1996 Nurse Case Management in the 21st Century. St. Louis: Mosby-Year Book. Inc.
  6. Cohen, D., de la Vega, R., & Watson, G. 2001. Advocacy for Social Justice: A Global Action and Reflection Guide. Bloomfield, CT: Kumarian Press.
  7. Community Health Nurses Association of Canada. 2003. Canadian community health nursing standards of practice. Ottawa: Author.
  8. Depkes RI. 2004a. Kajian Sistem Pembiayaan, Pendataan dan Kontribusi APBD untuk Kesinambungan Pelayanan Keluarga Miskin (Exit Strategy). Jakarta: Departemen Kesehatan RI.
  9. Depkes RI. 2004b. Sistem Kesehatan Nasional. Jakarta: Departemen Kesehatan RI.
  10. Depkes RI. 2005. Kemitraan. Pusat Promosi Kesehatan http://www. promokes.go.id, diunduh pada tanggal 25 September 2005.


http://ktiskripsi.blogspot.com/

PENGANTAR KESEHATAN LINGKUNGAN

PENGANTAR KESEHATAN LINGKUNGAN

HYGIENE
USAHA KESEHATAN PREVENTIF ATAU PENYEGAHAN PENYAKIT YANG MENITIK BERATKAN KEGIATANNYA BAIK PADA USAHA KESEHATAN PERORANGAN MAUPUN KEPADA USAHA KESEHATAN LINGKUNGAN FISIK DIMANA ORANG BERADA. ( Drs. Soebagio Reksosoebroto,1990 )

SANITATION
THE CONTROL OF ALL THOSE FACTORS IN MAN’S PHYSICAL ENVIROMENT WHICH EXERCISE OR MAY EXERCISE A DELETERIOUS EFFECT ON HIS PHYSICAL DEVELOPMENT, HEALTH, SURVIVAL. ( W.H.O., 1965 )

KESEHATAN-SEHAT
• ADALAH SUATU KEADAAN KESEMPURNAAN FISIK, MENTAL DAN SOSIAL YANG TIDAK HANYA BEBAS DARI PENYAKIT ATAU KELEMAHAN. (WHO)
• ADALAH KEADAAN SEJAHTERA BADAN, JIWA DAN SOSIAL YANG MEMUNGKINKAN SETIAP ORANG HIDUP PRODUKTIF SECARA SOSIAL DAN EKONOMI.

LINGKUNGAN
• LINGKUNGAN : MEDIA
1.ATMOSFER
2. HIDROSFER
3.LITHOSFER
4. BIOSFER
5. SOSIOSFER
• LINGKUNGAN MIKRO
• LINGKUNGAN MESO
• LINGKUNGAN MAKRO

Hubungan Host Agent Environment ( The Epidemiologi Triangle)
• Sehat : keadaan seimbang antara host, agent dan lingkungan tidak berubah
• Sakit, bila :
1. Agent meningkat
2. Daya tahan tubuhmenurun
3. Lingkungan berubah

KESEHATAN LINGKUNGAN
Adalah ILMU & SENI dalam mencapai KESEIMBANGAN KESELARASAN KESERASIAN lingkungan hidup melalui upaya PENGEMBANGAN BUDAYA PERILAKU SEHAT dan PENGELOLAAN LINGKUNGAN sehingga dicapai kondisi yang BERSIH, AMAN, NYAMAN, SEHAT dan SEJAHTERA terhindar dari gangguan PENYAKIT, PENCEMARAN dan KECELAKAAN, sesuai dengan HARKAT dan MARTABAT manusia Bogor. ( SS.210894 )

KESEHATAN LINGKUNGAN
• KESEIMBANGAN EKOLOGIS YANG HARUS ADA ANTARA MANUSIA DAN LINGKUNGANNYA AGAR DAPAT MENJAMIN KEADAAN SEHAT DARI MANUSIA SECARA UTUH TIDAK HANYA KESEHATAN SECARA FISIK TETAPI JUGA KESEHATAN MENTAL DAN SOSIAL DENGAN LINGKUNGANNYA (WHO)
• ENVIRONMENTAL HEALTH
ENVIRONMENTAL HEALTH IS THAT ASPECT OF PUBLIC HEALTH THAT IS CONCERNED WITH THOSE FROM OF LIVE, SUBSTANCES, FORCES AND CONDITIONER IN THE SURROUNDINGS OF MAN WAY EXERT AN INFLUENCE OF HUMAN HEALTH WELL BEING (W.PURDOM)

HUBUNGAN MANUSIA DAN LINGKUNGAN

Ruang lingkup perhatian ilmu kesehatan lingkungan
• Penyediaan air, khususnya yang menyangkut persediaan jumlah serta mutu dari air tersebut.
• Pengelolaan air bekas dan pengelolaan pencemaran terhadap air, termasuk masalah pengumpulan, pembersihan dan pembuangan air bekas dari rumah tangga dan sampah lain yang dibawa air, serta kontrol terhadap kwalitas air permukaan dan air tanah.
• Pengelolaan sampah padat.
• Kontrol vektor, termasuk anthropoda, binatang mengerat
• Pencegahan dan pengontrolan pencemaran tanah oleh kotoran manusia atau substansi lain yang berpengaruh buruk terhadap kehidupan manusia hewan dan tumbuhan.
• Sanitasi makanan dan susu.
• Pengotoran udara.
• Kontrol terhadap radiasi.
• Kesehatan kerja terutama pengaruh buruk dari faktor fisik, kimia dan biologis.
• Kontrol terhadap kebisingan.
• Perumahan dan lingkungan sekitar terutama aspek kesehatan masyarakat pada tempat pemukiman umum ataupun gedung-gedung.
• Perencanaan kota dan regional.
• Pencegahan terhadap kecelakaan.
• Aspek kesehatan lingkungan dari udara laut dan transportasi.
• Tempat rekreasi dan tourisme, aspek kesehatan lingkungan dari pantai, kolam renang tempat berkemah dan lain sebagainya.
• Tindakan sanitasi yang dihubungkan dengan epidemi. keadaan darurat (seperti banjir dan sebagainya) serta imigrasi penduduk.
• Tindakan pencegahan lain yang dibutuhkan untuk meyakinkan bahwa lingkungan telah bebas dari bahaya yang dapat mengancam kesehatan.

Ruang lingkup kesehatan lingkungan (WHO)
• Masalah air .
• Masalah barang/benda sisa/bekas seperti air limbah, sampah, tinja.
• Masalah makanan dan minuman.
• Masalah perumahan dan bangunan.
• Masalah pencemaran terhadap udara, tanah dan air.
• Masalah pengawasan arthropoda dan rodentia.
• Masalah kesehatan kerja.

PRINSIP-2 PENGENDALIAN PENYAKIT GANGG KESEH
• PENGOBATAN MEDIS-> KURATIF &REHAB
• IMUNISASI
• PENINGKATAN VITALITAS FISIK
• PENGENDALIAN LINGKUNGAN

PENGENDALIAN LINGKUNGAN
• ISOLASI -> PEMISAHAN DNG JARAK TTT
• SUBSTITUSI-> MENGGANTI BAHAN
• SHEILDING-> PELINDUNG
• TREATMENT-> PERAWATAN/PENGOLAHAN
• PENCEGAHAN

TREATMENT
• DESTRUKSI-> BINASAKAN KESELURUHAN SUMB.BIOLOGIS.
• KONVERSI -> GANTI B3-> <<< BAHAYA
• REMOVAL-> MEMBERSIHKAN DARI KOTORAN.
• INHIBISI-> MENGHAMBAT PERTUMBUHAN BAKTERI
• PENCEGAHAN-> MENCEGAH TERJADINYA PENYAKIT.

MASALAH2 KES.LING DAN DAMPAKNYA THD KESMAS(WHO)
• RATUSA JUTA ORANG MENDERITA PENYAKIT SAL.PERNAFASAN AKIBAT POLUSI UDARA DI DALM DAN LUAR RUMAH
• RATUSAN JUTA ORANG TERPAJAN PADA GANGGUAN FISIK MAUPUN KIMIAWI DI TEMPAT KERJA ATAU LINGKUNGAN (TERMASUK 0,5 JUTA MENINGGAL AKIBAT KECELAKAAN LALIN)
• 4 JUTA ANAK DAN BAYI MATI /TAHUN AKIBAT PENYAKIT DIARE, PD UMUMNYA PENCEMARAN MAKMIN DAN AIR MINUM.
• RATUSAN JUTA ORANG MENDERITA AKIBAT INFESTASI PARASIT YANG MELEMAHKAN.
• DUA JUTA ORG MENINGGAL AKIBAT MALARIA SETIAP TAHUN DAN 267 JUTA ORG SAKIT MALARIA
• TIGA JUTA ORG MENINGGAL AKIBAT TBC/TAHUN DAN 20 JUTA MENGALAMI INFEKSI AKTIF TBC.
• RATUSAN JUTA MENDERITA KURANG GIZI.

Sebagian besar masalah kesehatan berada di luar sektor kesehatan
Oleh karenanya dalam pembangunan kesehatan, perlu upaya untuk:
• Meminimalkan underlying causes, yaitu berbagai penyebab tak langsung (pendidikan, perumahan, dan lain-lain)
• Menangani cause of the the causes, yaitu penyebab fundamental (masalah sosial ekonomi, budaya dan lingkungan)

MASALAH KESEHATAN LINGKUNGAN (SURKESNAS)

• Fisik rumah (lantai 85 , 3 % > 8 m2) ; lantai tanah 17,6 %.;
• ventilasi 84,9 %; cahaya ckp 85,4 %.
• Sanitasi dasar ( sumber air terlindung 75 %;)
• jamban leher angsa 62 %. Cemplung 19,7 %, tidak pakai 7 %.
• Spal 25 % tertutp; 45,5 terbuka; 29,4 % tanpa saluran )
• Peng. Sampah 44 % Dibakar; ditimbun 10,5 %, dibuang ke sungai 7,2 %, sembarangan 9,3 %.
• Sumber penerangan PLN 83,4 %; Listrik non PLN 3 %, petromak 2,5 %; pelita 10,0 % lainnya 0,6 %.
• Bahan Bakar (listrik 2,9 %Gas 8,2 %; M.Tanah 43,2 %; Arang Batu bara 0,3 %, Kayu bakar 43,2 %, tidak memasak 1,2 %)

PENGERTIAN KOTA-KAB. SEHAT
• Kota yang terus menerus berupaya meningkatkan kualitas lingkungan fisik dan sosialnya melalui pemberdayaan potensi masyarakat dengan memaksimalkan seluruh potensi kehidupan baik secara bersama-sama maupun mandiri, sehingga dapat mewujudkan masyarakat yang berperilaku sehat hidup di lingkungan yang aman, nyaman sehat.

• Kabupaten sehat adalah kesatuan wilayah administrasi pemerintah yang terdiri dari desa/kelurahan yang masyarakatnya secara terus menerus berupaya meningkatkan kemampuan masyarakat untuk hidup sehat yang didukung oleh lingkungan , prasarana wilayah akses, pelayanan sosial, ekonomi dan kesehatan yang memadai, sehingga dapat mewujudkan masyarakat yang berperilaku sehat yang hidup dilingkungan yang aman, nyaman sehat.

MODEL KOTA/KAB SEHAT
KOTA SEHAT
a. Lingkungan yang sehat. terciptanya udara yg bersih, PAM
b. Prasarana kota yang aman dan Sehat.-> Ruang kota serasi
c. Perilaku hidup sehat-> meniadakan perilaku tdk sehat
d. Kehidupan sosial yang sehat->JPKM, penanggulangan anjal
e. Kawasan Industri yang sehat-> Industri aman & tdk polusi
f. Kawasan Pariwisata yang sehat> akomodasi& mkn aman
g. Pengembangan pendidikan yang berwawasan kesehatan.

KABUAPTEN SEHAT.
a. Lingkungan yang sehat.
b. Prasarana Kab/Kec/desa yang aman dan sehat.
c. Kehidupan sosial yang sehat.
d. Tersedianya pelayanan kesehatan sesuai dengan kebutuhan
e. Kesediaan pangan dan jaminan gizi

INDIKATOR KOTA/KAB.SEHAT
• Untuk melihat dan mengukur kemajuan kegiatan dibutuhkan indikator sehingga semua pihak yang ikut terlibat dapat menilai sendiri kemajuan yang sudah dilakukan dan menjadi tolok ukur untuk merencanakan kegiatan selanjutnya.
• Setiap daerah dapat memilih sesuai kemampuannya.
• Indikator: proses dan out put.

Contoh Indikator
• Indikator Proses
Adanya penyusunan rencana peningkatan gerakan kota/kab.sehat dibagian tsb dan perluasan ke wilayah lain dalam kota/kab.tab
• Indikator Hasil
Tersusunnya pelaksanaan peningkatan gerakan kota/Kab.dan desa/kel.sehat dibagian lain kota itu serta upaya peningkatannya di wil. Yg sudah ada kegiatannya.
• Indikator out put (contoh)
Fisik,
Udara Bersih
1. Ada dan dilaksanakan
2. Ventilasi memadai
3. Baku mutu emisi kendaraan
4. Monitoring baku mutu emisi kend.bermotor
5. Baku mutu Udara
6. Penggunaan unleaded bensin(tanpa Pb).
Penyediaan Air Bersih
1. Pengadaan air minum perpipaan
2. Rumah dng air bersih
3. Rumah dng air minum PAM
4. Air tdk tercemar Coli tinja.
NON FISIK
Perilaku Td Sehat
1. Kel./desa dengan kegiatan anti rokok, narkotik, penanggulangan kekerasan dan kenakalan remaja.
2. Penurunan kasus narkotika dan penggunaan obat-obatan terlarang.
JPKM
1. Adanya pendekatan JPKM yang dikordinir masyarakat.
2. Adanya JPKM yang mempunyai badan hukum.

Sumber :
Catatan Kuliah Pengantar kesling STIKes. MUHAMMADIYAH Banjarmasin PROGRAM S1Kep( NERS A/B) Dosen : Hardiono, SKM
http://ktiskripsi.blogspot.com/

KELAINAN YANG DISEBABKAN OLEH BAHAN KIMIA DAN OBAT

KELAINAN YANG DISEBABKAN OLEH BAHAN KIMIA DAN OBAT

Pendahuluan
• Hampir semua bahan kimia, termasuk obat-obatan mempunyai kemampuan menimbulkan jejas, kadang kematian.
• Beberapa diantaranya sangat toksik dan bereaksi cepat,dianggap sbg racun ttpi lebih sering berpengaruh scr samar-samar, dan baru nyata setelah beberapa waktu.

A. Efek samping agen terapi
• Lebih sering dikenal sebagai efek samping obat (ADR)
• Menjadi resiko yang paling diketahui oleh penderita, keluarga dan dokter.
• Setiap obat suatu saat dapat mengakibatkan ADR
• Konsensus luas bahwa 4 kategori pengobatan terlibat dalam ADR yang paling serius – agen radioaktif, antibakteri, antineoplastik, dan imunosupresan.
Kategori ADR
• Dapat diperkirakan, terkait dosis
- kelebihan dosis. Cth:toksisitas digitalis
- efek samping. Cth:toksisitas
• streptomisin yang terkenal pada telinga
• bgn dlm.
• Reaksi yang tidak terduga, tidak terkait dosis
• Efek ekstensi
• Reaksi idiosinkrasi

1.Analgesik
• Berton-ton aspirin dan analgesik terjual bebas setiap tahunnya(cth.fenasetin, asetaminofen)
• Kelebihan dosis aspirin yang tidak begitu tinggi walau tdk menimbulkan kematian, dpt menyebabkan reaksi hipersensitivitas (eritematosa, eksim, angioedema, urtikaria, asma, bahkan anafilaksis)
• Pemakaian dosis terapi aspirin selama penyakit virus ikut menyebabkan sindrom Reye
• Pemakaian aspirin yg menahun merupakan faktor penting pada perkembangan gastritis dan dapat menimbulkan tukak peptik gastrikum

2. Barbiturat
• Tahun 1977 di Britania disebutkan bahwa 70% kematian akibat bunuh diri disebabkan oleh akibat agen terapi barbiturat
• Dosis berlebihan yang tidak disengaja dan tidak dikehendaki, menjadi penyebab lebih dari 15.000 kematian setiap tahunnya di Amerika Serikat
• Semua jenis barbiturat mempunyai efek farmakologik yang serupa, tetapi bervariasi dalam kecepatan kerja
• Bila dosis total analgesik(campuran aspirin,fenasetin, dan asetaminofen) mencapai kadar dlm kilogram selama bertahun-tahun, dpt terjadi lesi ginjal yg dpt menimbulkan kematian
• Di Amerika Serikat Fenasetin telah ditarik dari peredaran, karna penggunaan fenasetin yang lama dan besar dianggap dapat menyebabkan kanker kandung kemih
• Akibat kliniko anatomi toksisitas barbiturat bervariasi dari depresi CNS yang menyolok dengan koma yang mematikan dlm waktu beberapa jam sampai dengan reaksi lambat non fatal yg mungkin berkaitan dengan kepekaan obat
• Bila kadar barbiturat darah cukup tinggi (mulai 2 mg/100ml utk agen kerja singkat), semua neuron di CNS tertekan termasuk yg paling penting pusat pengaturan pernapasan/suhu dibatang otak
• Diagnosis intoksikasi barbiturat, baik secara klinis, maupun anatomis, tergantung sekali pada identifikasi agen secara klinis, maupun anatomis, tergantung sekali pada identifikasi agen secara kromatografik gas, dalam darah atau isi lambung, karena perubahan klinis, dan anatomis tidak jelas

3. Estrogen Eksogen, dan Kontrasepsi Oral (OC)
• Estrogen eksogen tergantung pada dosis total dan lama penggunaan, akan meningkatkan risiko karsinoma pada organ sasaran tertentu, lebih besar dari organ lain
• Disamping sifat onkogenitas yang tampak, estrogen eksogen juga melipatgandakan risiko perjalanan penyakit empedu pada wanita
• Kontrasepsi oral masih menimbulkan pertentangan yang luas, tentang efek jangka pendek dan panjang

4. Obat Kemoterapi Kanker
• Pada kebanyakan kasus, neoplasma yang disebabkan obat adalah leukimia nonlimfositik akut.
• Neoplasma akibat obat terjadi terutama pd penderita noplasma yang peka terhadap pengobatan , termasuk penyakit Hodkin, limfoma non-hodkin, mieloma multipel, dan Ca.ovarium, tetapi kadang-kadang terjadi pada keadaan yang tdk terobati juga(mis. Ca.payudara, Ca.gastrointestinal dan polisitemia vera.
• Berdasarkan bukti yang ada sekarang, maka agen alkilator (seperti melfalan,dan siklosfosfamid) menghadapi risiko terbesar karena obat-obatan ini mempunyai kemampuan untuk mencetuskan mutasi

5. Antibiotik dan Imunosupresan
• Beberapa efek antibiotik utama:
a. Reaksi sensitivitas terkait antibiotik, bervariasi mulai anafilaksis, sampai ruam kulit
b. Srain baru kuman kebal obat telah timbul, terutama yang dapat dicatat seperti stafilokokus, gonokokus, dan enteropatogen gram negatif. Kuman-kuman ini dan strain-strain lain yg juga kebal, menimbulkan masalah yang berat dan dapat mencetuskan epidemik yang serius, baik dalam masyarakat maupun RS
c. Penghancuran mikroflora tubuh sering memberikan kesempatan bagi proliferasi kuman oportunistik yang mempunyai kemampuan untuk mencetuskan penyakit hanya pada tuan rumah yang rentan.
• Imunosupresan telah memungkinkan era pencangkokan organ, dan kadang-kadang penyelamatan hidup pada penderita penyakit diperantai imun, tetapi obat ini juga dapat mencetuskan risiko
• Yang paling jelas, ialah reaktivasi tuberkulosis yang telah tenang dengan pengobatan dosis tinggi steroid jangka panjang, yang kadang-kadang dapat menyebabkan diseminasi milier fatal infeksi.

B. EFEK SAMPING AGEN NON-TERAPEUTIK
Substansi non-terapeutik yang dapat menyebabkan penyakit, diantaranya yaitu:

1. Etil Alkohol
Konsumsi etanol yang berlebihan merupakan salah satu masalah utama medis, dan kemasyarakatan didunia. Konsumsi alkohol dpt dianggap berlebihan, bila alkohol menimbulkan efek samping pada kondisi intelektual, kejiwaan, dan jasmani sesorang.
Diantara efek-efek patofisiologis berkaitan dengan CNS lah yang paling peningkatan kadar alkohol darah, adalah yang penting. Etanol merupakan suatu depresan CNS.
Diantara efek-efek alkohol yang lain, adalah toksisitas pada sel hati.
Beberapa implikasi tambahan alkoholisme yaitu kepekaan terhadap infeksi meningkat, miopati otot lurik yang analog dgn keadaan pada kardiomiopati, gastritis, ulkus peptikum, pankreatitis akut/kronik

2. Timbal
Terdapat banyak sumber timbal dari lingkungan. Timbal mempunyai banyak efek metabolik yang merusak. Timbal menghambat penggabungan besi menjadi hem, mengganggu sintesis globin, dan menghambat asam delta-aminolevulenat dehidratase dalam sel darah merah.

3. Adiksi Obat
• Mariyuana (cannabis/ganja),
substansi psikoaktif yang terkandung dalam resin daun, dan pucuk bunga tanaman adalah tetrahidrokanabinol (THC). Walaupun tidak ada efek fisik yang nyata, pemakaian ganja selama usia dini sering menjadi permulaan bagi penggunaan obat lain. Lebih baik kita memberi judul pada bagian ini, “ Jangan Dekat Tanaman Itu”
• Heroin
Suatu derivat morfin, opoid yang sering disalah gunakan. Obat ini dapat dihirup atau dilarukan dalam cairan, dan disuntikkan subkutan atau secara intravena

• Kelebihan dosis merupakan penyebab kematian paling sering, karena dihubungkan dengan hambatan pusat-pusat pengaturan dimedula.

4. Karsinogen Industrial
Menurut Biro Perlindungan Lingkungan Amerika Serikat, kira-kira 50.000 substansi pada penggunaan komersial masa kini, hanya sekitar seperlimanya saja yang diuji, dan 20% diantaranya dianggap karsinogenik.Walaupun begitu tidak ada sanggahan terhadap kenyataan bahwa pemaparan karena pekerjaan telah mencetuskan kira-kira 1 sampai 5 % kanker manusia.

5.Agen Non Terapeutik Lain
Disamping substansi-substansi sebelumnya,banyak substansi lain yang diketahui menyebabkan penyakit dan kematian.
• Metil alkohol (dipakai dalam solven, penghapus cat, anti es dan sterno) Penyerapan setelah termakan, atau terhirup. Tempat utama jejas adalah neuron retina, keterlibatan otak menyebabkan depresi CNS
• Karbon Monoksida (CO)
Merupakan penyebab langka kematian tidak disengaja. Afinitas. COpada hemoglobin 200 kali lebih besar daripada afinitas oksigen. Afinitas yang meningkat ini menghasilkan karboksihemoglobin, yang mengganggu transpor oksigen,dan menyebabkan hipoksi sistemik.
• Merkuri, dengan berikatan pada gugus sulhidril, dapat meracuni enzim, dan merusak membran.

Sumber :

Materi Kuliah Patologi Klinik
Dosen : dr.Hatta Antemas
http://ktiskripsi.blogspot.com/

INTERVENSi KEPERAWATAN KELUARGA

Tahap intervensi ini diawali dengan penyelesaian perencanaan perawatan. Implementasi dapat dilakukan oleh banyak orang; klien (individu atau keluarga), perawat, dan anggota tim pera­watan kesehatan yang lain, keluarga luas, dan orang-orang lain dalam jaringan kerja sosial kelu­arga,
Mengikuti pengkajian terhadap keluarga dan diskusi bersama terhadap keprihatinan-keprihatinan dan masalah-masalah keluarga, perawat kelu­arga dan keluarga perlu memutuskan apakah inter­vensi keluarga diusulkan. Kriteria untuk membuat keputusan tennasuk keinginan dan motivasi kelu­arga dalam menerima bantuan dan mencoba memecahkan masalah-masalahnya, dan tingkat berfungsinya keluarga, tingkat keterampilan keluarga itu sendiri, serta sumber-sumber yang tersedia (Wrightdan Leahey, 1984).
Di samping rutinitas perawatan yang bersifat preventif dan promosio-nal. Wright dan Leahey menyarankan bahwa normalnya keluarga memerlukan bantuan dalam situasi sebagai berikut:
1. Sebuah keluarga menjadi penyebab suatu masalah di mana hubungan di antara para ang-gota keluarga terganggu,
2. Seorang anggota keluarga menjadi penye­bab suatu penyakit yang mempunyai pengaruh buruk terhadap anggota keluarga yang lain.
3. Anggota keluarga memperbesar gejala-gejala atau masalah seorang individu.
4. Kemajuan kesehatan seseorang anggota kelu-arga menimbulkan gejala atau kemerosotan pada seorang anggota keluarga yang lain.
Selarna pelaksanaan intervensi-intervensi perawatan, data-data baru secara terns menerus mengalir masuk. Karena informasi ini (respons-respons dari klien, perubahan-perubahan situasi, dll.) dikumpulkan, perawat perlu cukup fleksibel dan dapat beradaptasi untuk mengkaji ulang situasi dengan keluarga dan membuat modifikasi-modifikasi tanpa rencana terhadap perencanaan.

TINGKATAN INTERVENSI KEPERAWATAN KELUARGA
Ada bermacam-macam tingKat intervensi pera­watan keluarga dalam hubungannya dengan kompleksitas intervensi itu sendiri. Wright dan Leahey (1984) membaginya menjadi dua tingkatan inter­vensi—intervensi permulaan dan intervensi yang telah maju. Pada praktik perawatan keluarga ting­kat dasar, intervensi bersifat suportifdan mendidik (edukatif), dan langsung ke arah sasaran. Sedang-kan pada tingkat yang telah maju, intervensi meliputi sejumlah intervensi terapi keluarga yang ber­sifat psikososial dan tidak langsung.

TIPOLOGI INTERVENSI KEPERAWATAN
Klasifikasi Freeman’s.
Freeman (1970), dalam naskah keperawatan kesehatan klasik, mengkla-sifikasi intervensi sebagai berikut:
1. Suplemental. Di sini perawat berlaku seba­gai pemberi pelayanan perawatan langsung dengan mengintervensi bidang-bidang yang keluarga tidak bisa melakukannya.
2. Fasilitatif. Dalam hal ini perawat keluarga menyingkirkan halailgan-halangan terhadap pelayanan-pelayanan yang diperlukan, seper-ti pelayanan medis, kesejateraan sosial, trans-portasi dan pelayanan kesehatan di rumah.
3. Perkembaiigan. Tujuan-tujuan perawatan di-arahkan pada perbaikan kapasitas penerima perawatan agar dapat bertmdak atas nama dirinya (mempromosikan kelompok keluarga dalam hal perawatan din dan tanggungjawab pribadi). Membantu kelu.arga memanfaatkan sumber-sumber perawatan kesehatan pribadi seperti sistem dukungan sosial internal mau-pun, eksternal dalam satu intervensi sernacam itu (Milardo, 1988),
Klasifikabi Menurut Wright Dan Leahey
Wright dan Leahey (1984) membicarakan secara mendalam proses implementasi intervensi perawatan keluarga yang diarahkan secara pro-fesional. Mereka menggolongkan intervensi keluarga dalam tiga tingkatan fungsi keluarga:
a. Kognitif.
b. Afektif
c. Perilaku

Intervensi yang Ditujukan pada Perubahan Perilaku Keluarga
Ketika para perawat bckerja dengan keluarga, intervensi pun diarahkan untuk membantu ang-gota keluarga mengubah perilaku mereka, dengan tujuan akhirnya untuk memperkokoh fungsi keluarga atau tingkat kesejahteraan yang tinggi. Untuk perawat yang bekerja dengan keluarga da­lam jangka waktu yang lama, haros diingat bahwa pembahan dalam keluarga akan membuahkan hasil “setelah beberapa waktu, lewat serentetan gerakan intenvensif, masing-masing menjadi lebih besar daripada informasi yang diperoleh. dan sebagian dilakukan lewat observasi hasil mter-vensi-intervensi sebelumnya” (Hartman dan Laird, 1983. hal 306).
Konsep-konsep pembahan bersifat sangat niembantii meniikirkan cara-cara menolong kelu­arga agar bembah. Wright dan Leahey (984) me-wamai sejumlah konsep pembahan yang mereka anggap penting dalam membantu mereka bekerja sama dengan keluarga-keluarga yang bermasalah:
- Perubahan tergantung kepada konteks.
- Perubahan tergantung kepada persepsi (dari klien) terhadap masalah.
- Perubahan tergantung kepada tujuan-tujuan yang realistis.
- Pemahaman itu sendiri tidak menyebabkan perobahan.e
- Perubahan tidak periu terjadi secara merata pada semua anggota keluarga.
- Perubahan dapat saja memiliki banyak sekali penyebab.

INTERVENSI KEPERAWATAN KELUARGA KHUSUS
Banyak sekali intervensi keperawatan keluarga yang ada, yang dapat digunakan dalam bekerja dengan keluarga. Intervensi mana yang dipilih dan seringkali menjadi hasil dari model teoritis yang digunakan oleh perawat keluarga dalam perawat-an keluarga tertentu, dan dibuat pula diagnosa keperawatan keluarga serta pemmusan tujuan-tu-juannya. Misalnya bimbingan antisipasi (sema-cam strategi pengajaran) ditekankan dalam per-kembangan model'(model perkembangan) sedangkan strategi intervensi krisis serir&g diguna-kan jika suatu model keluarga stres dan model koping dsgunakan dalam praktik. .
Malahan strategi-strategi intervensi khusus yang digunakan oleh profesional perawatan kese-hatan bersama keluarga mungkin tergantung kepada tingleat berfungsinya keluarga. Leavitt (1982) mengklasifikasikan keluarga dalam tipe-tipe yang sangat fusigsional, agak disfungsional, sangat disfungsional, akut dan sangat disfungsio­nal, dan kronis. Intervensi perawatan beraneka macam, tergantung kepada tingkat fungsionalitas keluarga. Misalnya, dengan keluarga yang sangac fungsional, tindakan-tindakan perawatan keluarga semata-mata bersifat promotif dan preventif (pengajaran dan penyediaan informasi). Berbeda dengan tipe-tipe keluarga yang sangat disfimg-sional dan akut, terapeutik jangka pendek dan panjang, dan tindakan-tindakan yang suportifdais” promotif (Leavitt, 1982).
Intervensi – intervensi yang diimplementasikan, tergantung kepada keluarga, karena keluarga me-rupakan partisipan aktifdalam penyusunan tujuan dan seleksi intervensi. Dalam hal tertentu, stra-tegi edukatif (pengajaran) dan suportif meropa-kan inti dari strategi intervensi tanpa memandang semua faktor yang terlibat.
Dalam setiap yang bab yang berbicara tentang pengkajian dan intervensi, juga diidentifikasikan intervensi-intervensi tertentu yang ditekankan pa-da bidang-bidang tertentu..

Intervensi Keperawatan Keluarga
- Modifikasi Perilaku
- Pembuatan Kontrak
- manajemen / koordinasi kasus
- strategi – strategi kolaboratif
- konseling termasuk dukungan, penilaian kognitif dan membuat kembali kerangka.
- memberi kuasa kepada keluarga lewat partisipasi aktif.
- modifikasi lingkungan
- advokasi keluarga
- intervensi krisis keluarga
- membuat jaringan kerja termasuk penilaian kelompok bantuan diri dan dukungan sosial
- model peran

RINTANGAN TERHADAP PENGIMPLEMENTASIAN INTERVENSI

Apatis dan Perbedaan Nilai.
Dalam melaporkan karya dengan keluarga-keluarga misJkin dan yang berbeda-beda secara budaya dalam komuinitas. Dyer (1973) menyebutkan dua masalah terkait yang mana mempertentangkan perawat kelu-j arga—yaitu apatis dan ketidaktegasan keluarga. Masalah pertama dari permasalahan perilaku ini tidak harus diakui sebagai sebuah masalah utama, tapi yang lebih penting, harus diinterpretasikan menurut artinya yang tepat.
Masalah pertama dari permasalahan perilaku ini adalah apatis. Manifestasi perilaku dari apatis sangat nampak. Ketika perawat menemukan ma-salah-masalah kesehatan yang ia rasakan sangat mempengaruhi keluarga dan mendiskusikan ma-salah-masalah ini dan rekomendasi-rekomendasi, keluarga memberikan rekomendasari dengan sikap “so what” (mengaipa hal tersebut sangat pen-ting?, mengapa saya harus perhatikan) dan tidak memberikan landa-tanda untuk melakukan tindak-an atau tanda-tanda keprihatinan. Apakah kelu­arga benar-benar tidak memperhatikan? Tidak selalu demikian. Hal ini senantiasa menjadi masa­lah bahwa ada perbedaan dalam nilai-nilai, khu-susnya jika keluarga berasal dari latar belakang sosioekonomikatau etnis yang berbeda. Padahal, perawat merasa bahwa kesehatan seharusnya menjadi prioritas tertinggi, dan kebutuhan dasar psikologis serta keselamatan bagi keamanan eko-nomi.rumah yang layak huni, dan makanan yang cukyp seperti ini bagi keluarga-keluarga semacam itu memiliki urgensi yang lebih besar. Banyak sekali praktik dalam bidang kesehatan (rtiis., nu-trisi yang direncanakan secara hati-hati, kebersih-an. perawatan kesehatan preventif).
Dengan demi-kian, apa yang perawat pandang sebagai apatis benar-benar merupakan lanjutan dari pengalaman hidup keluarga dan perbedaan dalam nilai-nilai. Perawat yang soring dihadapkan dengan tugas-tugas untuk mencoba menolong keluarga dalam upaya memperoleh kebutuhan-kebutuhan yang lebih mendasar, sehingga mereka dapat mena-ngani perbaikan kesehatan mereka sendiri.
Bahkan tugas pendidikan lebih sulit jika ja-ringan kerja sosial keluarga atau sistem sosial (kerabat. teman-teman dan tetangga) tidak mendu-kung tindakan kesehatan yang diperlukan« Beberapa riset menunjukan bahwa jika anggota suatu kelompok mengadopsi praktik-praktik barn yang” saling mendukung satusama lain, maka kemung-kinan perubahan perilaku akan lebih besar. Ber-dasarkan pemahaman ini, banyak terapeutik dari kelompok bantuan mandiri yang telah terbentuk untuk membantu para anggota keluarga menga­dopsi pola-pola perilaku yang barn (mis., Alcoho­lic Anonymous, Parent Anonymous, Weight Watchers, Colostomy Club, Reach for Recovery., kelompok-kelompok psikoterapi).

Apatis, Keputusaan/dan Kegagalan
Di samping perbedaan nilai, apatis juga boleh jadi hasil suatu perasaan putus asa—suatu keyakinan bahwa apa saja yang dikerjakan oleh keluarga tidak akan menjadi masalah atau fatalisme—pera­saan bahwa “Apa yang akan terjadi, terjadilah.” Fatalisme merupakan. suatu paham sentral di kalangan kaum miskin dan kaiim tidak berdaya. Masalah-masalah tersebut mungkin terialu berat bagi individu-mdividu ‘untuk mereka tahu dari mana mereka hams mulai. Dengan memecahkan suatu tugas menjadi tugas-tugas yang lebih kecil, yaitu dengan langkah-langkah yang bemmtan, mungkin cara ini dapat membantu sebuah keluarga maju terns ke arah suatu tujuan secara sukses yang mulanya nampak ddak bisa diatasi. Mungkin ha­ms diingat bahwa mencoba tidak m6nyelesaikan suatu tujuan merupakan Suatu cara yang lazim untuk koping terhadap “menyelamatkan muka/’ karena cara ini menghindari rasa malu akibat kegagalan

Apatis dan Kegagalan.
Penjelasan kedua .perilaku apatis pada sisi keluarga adalah. bahwa ; anggota keluarga merasa adanya kegagalan men” capai efekti vitas dan tersedianya pelayanan. “Jadi Saya menderita kanker? Takada yang bisa dilaku-kan bila mereka benar-benar! menemukannya!” Tanpa suatu persepsi. bahwa penanganan yang efektif dan yang dapat diterapkan benar-benar ada, klien tidak akan mencari pelayanan perawatan kesehatan (Becker, 1972). Perawat yang berpusat pada keluarga periu meneliti situasi di mana apatis tersebut berada dan mencoba menentukan apa yg sedang terjadi. Apakah informasi yang salah tentang masalah, atau keuangan, atau tentang .najemen sumber-sumber dalam keluarga, atau•asaan takut yang beriebihan.

Ketidaktegasann.
DYER (1973)) menggambarkan, ketidaktegasan sebagai bidang perilaku yang ketiga, yang ditemukan oleh perawat di dalam komunitas sebagai suatu masalah. Dalam hal ini, keluarga nampaknya tidak apatis, tapi juga tidak tegas. Apa yang menyebabkan jenis perilaku ini? Dyer mengklasifikasi beberapa di antaranya. Per-tama ketidaktegasan diakibatkan oleh ketidak,” mampuan melihat kelebihan dari suatu tindakan terhadap suatu tindakan lain. Apa yang dikerjakan, keuntungan dan kemgian nampaknya sama saja. Dalam hal ini perawat periu membantu keluarga memecahkan masalah menggali berbagai tindakan pro dan kontra, di samping perasaan anggota kelu­arga.
Diharapkan proses ini menghasilkan suatu pendekatan yang dapat memperoleh superioritas dalam pikiran anggota keluarga sehingga mereka bisa,ambil tindakan., Beberapa klien yang matian-matian mengmginkan saran langsung tentang apa yang hams dikerjakan. Pertimbangan yang sangat hati-hati periu diberikan atas permintaan mereka. Kadang-kadang ketergantungan sementara, mem-pakain kesempatan yang paling baik, tapi umum-ny a pendekatan ini hanya mampu memecah.kan masalah tertentu, dan sementara itu keluarga tidak meiripelajari bagaimana mengkopmg masalah berikutnya secara mandiri. Menjadi seorang i-ndi-vidu sumber pendukung merupakan peran yang lebih disenangi.
Ketidaktegasan mungkin juga merupakan aki bat dari perasaan takut dan masalah-masalah yang tidak diekspresikan.Ansietas dan takut yangjela tidak mampu memobilisasi kemampuan memecahkan masalah.
Pengambilan keputusan secara de-facto (membiarkan hal-hal terjadi) boleh jadi merupakan bagian dari gaya hidup keluarga. Jenis pengambilan keputosan ini terbukti menonjol dalam keluarga yang tercerai berai dan keluarga miskin

EVALUASI
Komponen ke lima dari proses keperawatan ada-lah evaluasi. Evaluasi didasarkari pada bagaimana efektifnya intervensi-intervensi yang dilakukan oleh keluarga, perawat, dan yang lainnya. Keefek-tifan ditentukan dengan melihat respons keluarga dan hasil (bagaimana keluarga memberikan res­pons), bukan intervensi-intervensi yang dimplementasikain Sekali lagi evaluasi mempakan suatu upaya bersama antara perawat dan keluarga.
Meskipun evaluasi dengan pendekatan ter-pusat pada klien paling relevan, sering kali mem-buat frustrasi karena adanya kesulitan-kesulitan dalam membuat kriteria objektif untuk hasil yang dikehendaki dan karena faktor-faktor di luar inter­vensi-intervensi terencana yang mengintervensi dan mempengaruhi hasil keluarga/klien. Karena faktor-faktor semacam itu, seorang tidak pernah bisa melihat kemanjuran dari intervensi kepera­watan secarajelas dan “murni.”
Rencana perawatan mengandung kerangka kerja evaluasi. Jika secarajelas telah digambarkan tujuan perilaku yang spesifik, maka hal ini dapat berfungsi sebagai kriteria evaluasi bagi tingkat efektivitas yang telah dicapai. Bahkari dalam beberapa cohtoh, mungkin perlu mengembangkan kriteria yang lebih spesifik bagi evaluasi tujuan. Misalnya, tujuannya, “Keluarga akan mengupaya” kan perawatan medis bagi bayinya yang sakit,” mungkin Sebih membutuhkan kriteria yang lebih spesifik untuk memlai apakah tujuannya telah di­capai. Kriteria untuk evaluasi boleh jadi meiiputi fakta bahwa keluarga telah ditangani oleh seorang ahli pedriatik dan bayi yang menderita penyakit. Akan tetapi, dalam banyak kasus, tujuan yang ditulis dalam istilah-istilahkhusus untukmenghm-dari perkembangan kriteria selanjutnya, seperti “Anak akan memperoleh pelayanan diagnosa dan penanganan dari ahli pedriatik dalam jangka waktu 1 hingga 3 hari.”
Evaluasi mempakan proses berkesinambung-an yang terjadi setiap kali seorang perawat mem-perbaharui rencana asuhan keperawatan. Sebelum perencanaan-perencanaan dikembangkan dan di-modifikasi, perawat bersama keluarga perlu melihat tindakan-tindakan perawatan tertentu apakah tindakan-tindakan perawatan tersebut benar-benar membantu. Jika respons terhadap intervensi perawatan tidak dievaluasi secara ber-sama-sama, makatindakan perawatan yang efektif akan tetap ada.
Berikut ini pertanyaan-pertanyaan yang perlu difenungkan ketika melakukan evaluasi:
1. Apakah ada Konsensus antara keluarga dan anggota tim perawatan kesehatan lain dalam hal evaluasi?
2. Data tarnbahan apa yang perlu dikumpulkan untuk mengevaluasi perkembangan?
3. Apakah terdapat hasil tersembunyi yang perlu dikembangkan?
4. Jika perilaku dan persepsi keluarga menyata-kan bahwa masalah dimaksud diselesaikan secara tidak memuaskan, maka apa alasan-nya?
5. Apakah diagnosa keperawatan, tujuan-tuju-an, dan pendekatan-pendekatan bersifat realistis dan akurat?
Ada bermacam-macam metode evaluasi yang dipakai dalam perawatan. Faktor yang paling penting adalah bahwa metode tersebut harus di-sesuaikan dengan tujuan dan intervensi yang sedang dievaluasi.

MODIFIKASI
Modifikasi mengikuti perencanaan. evaluasi dan mulai dengan proses siklus kembali ke pengkajian dan pengkajian ulang dengan memberikan informasi yang diperoleh dari’pertemuan-pertemuan sebelumnya, dan lalu ditemskan dengan revisi setiap fase dalam siklus bila dibutuhkan. .
Seringkali, modifikasi ini sulit dilakukan, karena hanya akan mendatangkan frustrasi dan menurunkan egoserta mengakui bahwa evaluasi dan implementasi kita tidak berjalan efektif. Sehingga dalam bekerja dengan keluarga untuk jangka waktu yang lama, serigkali kita hanya meli­hat perolehan hasil yang begitu lambat, atau tidak ada kemampuan sarna sekali—paling tidak pada saat kita bekerja dengan mereka. Dalam hal ini kita perlu yakin bahwajika kita meneruskan penelitian kita untuk mendapat suatu diagnosa yang lebih akurat atau suatu perencanaan yang lebih efektif, kita puriya kesempatan untuk ber-hasil dan sumber-sumber yang perlu dikembang-kan akan setara dengan hasildiperoleh. Akan tetapi, yang paling penting adalah menyimpang dalam benak prinsip-prinsip penentuan diri sen-diri—bahwa keluarga mempunyai hak memutus-kan apa yang terbaik bagi mereka dan membuat keputusan-keputusan menyangkut kesehatan me­reka sendiri.

http://ktiskripsi.blogspot.com/

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.